Vicky Prasetyo. Ia terkenal dengan
gaya bicaranya yang gemar menggunakan istilah-istilah “tinggi”. Hingga akhirnya
tercipta terminologi baru, yakni “Vickynisasi”. Artinya, mem-Vicky-kan segala
kata-kata yang harusnya biasa menjadi istilah-istilah rumit nan “tinggi”.
Saya dapat
dihitung sebagai salah satu penikmat hiburan (konyol) yang dibuat berdasarkan
semua tingkah laku ataupun perkataan Vicky Prasetyo. Yah, itu cukup menghibur
kan? Dan kemudian aku membaca The Fault in Our Stars (John Green) yang membawaku berkenalan dengan Hazel Graze
Lancaster, sang tokoh utama dalam novel tersebut.
Gaya bicaranya mengingatkan aku pada si Vicky, tapi dengan cara yang cerdas, tentu saja. Hazel Grace, gadis 16 tahun yang mengidap penyakit kanker itu hampir
selalu berbicara dengan sarkastik, bahkan humor-humor yang dikatakannya pun adalah humor-humor penuh keputus-asaan (lagian humor semacam apa yang dapat kamu harapkan dari seseorang yang mendengar bahwa dia tak akan berumur panjang sejak tiga bulan setelah menstruasi pertamanya?)
“Seakan-akan
berkata, hei kini kamu telah menjadi ‘wanita’, sekarang matilah!"
Ok, kembali
ke masalah vickynisasi. Dalam novel ini kamu bahkan akan mendengar si Hazel
Grace mengatai ayunannya sebagai pedophilia kesepian yang selalu menginginkan
(maaf) pantat anak-anak. Dan “aww” seperti kata Augustus Waters, gebetannya
yang sama-sama menderita kanker, “Aku mencintaimu Hazel Grace.” “Kau begitu
sibuk menjadi dirimu sendiri sehingga sama sekali tidak tahu bahwa kau tidak
ada duanya.”
Yah
begitulah. Aku tidak peduli bahwa ini hanya novel dan bahwa yang sesungguhnya
mengucapkan kata-kata itu adalah John Green, penulisnya. Aku hanya peduli bahwa
itu diucapkan Hazel Grace dan aku menyukainya. Dan kamu pasti tahu kan ungkapan
yang mengatakan bahwa jika kamu bertemu dengan orang pintar, maka tanyakan buku
apa yang dia baca? Nah, karena satu-satunya buku kesukaan Hazel Grace adalah
Kemalangan Luar Biasa karya Peter Van Houten (fiktif), aku rasa-rasanya ingin
membaca buku itu juga (nyata -_- ).
Vickynisasi-vickynisasi lain
dalam novel ini:
“Masa-masa
saat aku melakukan tembakan-tembakan bebas (bola basket) yang secara
eksistensial bermakna.”
“Sarapanisasi
memberikan kesakralan tertentu pada telur orak-arik, bukan?”
Ah, well, masih banyak lagi yang lain. Dan
kuberitahu saja, aku bohong. Aku tahu bukan hanya Hazel Grace yang
bervickynisasi, tapi Augustus Waters dan Mrs Lancaster juga! Karena itu, aku
harus mengatakan ini. Hey, John Green, Aku mencintaimu. Kenapa kau begitu sibuk
menjadi diri sendiri seperti itu?

0 comments:
Post a Comment