Wednesday, 17 June 2015

[Book] Vickynisasi ala Hazel Grace Lancaster



          Vicky Prasetyo. Ia terkenal dengan gaya bicaranya yang gemar menggunakan istilah-istilah “tinggi”. Hingga akhirnya tercipta terminologi baru, yakni “Vickynisasi”. Artinya, mem-Vicky-kan segala kata-kata yang harusnya biasa menjadi istilah-istilah rumit nan “tinggi”. 

          Saya dapat dihitung sebagai salah satu penikmat hiburan (konyol) yang dibuat berdasarkan semua tingkah laku ataupun perkataan Vicky Prasetyo. Yah, itu cukup menghibur kan? Dan kemudian aku membaca The Fault in Our Stars (John Green)  yang membawaku berkenalan dengan Hazel Graze Lancaster, sang tokoh utama dalam novel tersebut. 


          Gaya bicaranya mengingatkan aku pada si Vicky, tapi dengan cara yang cerdas, tentu saja. Hazel Grace, gadis 16 tahun yang mengidap penyakit kanker itu hampir
selalu berbicara dengan sarkastik, bahkan humor-humor yang dikatakannya pun adalah humor-humor penuh keputus-asaan (lagian humor semacam apa yang dapat kamu harapkan dari seseorang yang mendengar bahwa dia tak akan berumur panjang sejak tiga bulan setelah menstruasi pertamanya?)

          “Seakan-akan berkata, hei kini kamu telah menjadi ‘wanita’, sekarang matilah!"

          Ok, kembali ke masalah vickynisasi. Dalam novel ini kamu bahkan akan mendengar si Hazel Grace mengatai ayunannya sebagai pedophilia kesepian yang selalu menginginkan (maaf) pantat anak-anak. Dan “aww” seperti kata Augustus Waters, gebetannya yang sama-sama menderita kanker, “Aku mencintaimu Hazel Grace.” “Kau begitu sibuk menjadi dirimu sendiri sehingga sama sekali tidak tahu bahwa kau tidak ada duanya.”

          Yah begitulah. Aku tidak peduli bahwa ini hanya novel dan bahwa yang sesungguhnya mengucapkan kata-kata itu adalah John Green, penulisnya. Aku hanya peduli bahwa itu diucapkan Hazel Grace dan aku menyukainya. Dan kamu pasti tahu kan ungkapan yang mengatakan bahwa jika kamu bertemu dengan orang pintar, maka tanyakan buku apa yang dia baca? Nah, karena satu-satunya buku kesukaan Hazel Grace adalah Kemalangan Luar Biasa karya Peter Van Houten (fiktif), aku rasa-rasanya ingin membaca buku itu juga (nyata -_- ).

Vickynisasi-vickynisasi lain dalam novel ini:

          “Masa-masa saat aku melakukan tembakan-tembakan bebas (bola basket) yang secara eksistensial bermakna.”
          “Sarapanisasi memberikan kesakralan tertentu pada telur orak-arik, bukan?” 

          Ah, well, masih banyak lagi yang lain. Dan kuberitahu saja, aku bohong. Aku tahu bukan hanya Hazel Grace yang bervickynisasi, tapi Augustus Waters dan Mrs Lancaster juga! Karena itu, aku harus mengatakan ini. Hey, John Green, Aku mencintaimu. Kenapa kau begitu sibuk menjadi diri sendiri seperti itu?

0 comments: