Showing posts with label Poetry. Show all posts
Showing posts with label Poetry. Show all posts
Tuesday, 12 July 2016
Wednesday, 15 April 2015
Puisi Suara NTB (28 maret 2015)
![]() |
| Gambar : http://www.arpa.fvg.it |
Pabrik Beras
hujan turun lebat
nyonya berdiri
menjulang
bertolak
pinggang seperti cangkir
atau teko meminta
dituang
para buruh lewat
mengucap tabik
dada mereka
berderap sudah tahu
kesalahan apa
dibuat
: terpal-terpal
bolong
angsa-angsa
milik nyonya
komat-kamit
dan para buruh
mendengarnya
sebagai doa
sebab siapa tak
kenal nyonya
buruh terakhir
tiba
nyonya
menurunkan tangan
sebelum tabik diselesaikan
(Karang Irian, 2015)
Rumah
ibu membelakangi
televisi
punggungnya memutar
video muram
tanpa latar
adik yang
melukis mimpi
dengan liur
tidur serupa
tanda baca
aku menghitung
jalan panjang
ke kamar sebelah
dimana kakak mengeja
nama keluarga
(Sumbawa, 2015)
Laba-Laba Kantung Mata
laba-laba yang
kau pelihara
di kantung
matamu
tentu bosan
menyaksikan permainan
domino
yang selalu enggan
membuatmu menang
jika ia mulai
bosan
ia dapat berbiak
banyak
dan kantung
matamu dapat meledak
tak ada mesin
waktu yang
ditanamkan
sebagai peringatan
matamu dapat
meledak hari ini, esok,
atau jika tidak
ia mungkin telah
pindah ke dadamu
: keliru akan
jantung dan detik waktu
(Sumbawa, 2015)
Pusara
ada pusara pada
dadanya
yang lapang
tenang
torehan belati
pernah membuatnya
mati
berkali-kali
di perjalanan
menuju makam
ia temukan
tubuhnya
yang lain tengah
menanamkan
pusara
pada dadanya
sendiri
tubuhnya saling
menangisi
(Sumbawa, 2015)
(Dimuat pada harian Suara NTB Sabtu, 28 Maret 2015)
Wednesday, 25 December 2013
Perempuan Hujan
Dimuat di Harian Suara NTB
/1/
Berdendang itu
altar sucimu
ketika langit
berubah merah
dan mata
lebur
jadi darah
altar sucimu
ketika langit
berubah merah
dan mata
lebur
jadi darah
Monday, 25 June 2012
Manusia Randu
Sobekan kertas yang kaucecer pagi tadi
telah kutenggelamkan
Ada banyak nama disana
mungkin
namamu (semua)
yang membentukmu jadi manusia
bertubuh randu
Aku Menamainya Namamu
Aku menamainya namamu yang kaubenci
Yang sayup kauserapahi pada puncak malam
Dan kauselipkan pada rapal tak berkesudahan
Friday, 25 May 2012
Suara Larimu Menggema
Suara larimu menggema
Berbaur uap kopi
yang dihabiskannya pergi
Ada cincin emas terseok menyelamatkan
diri
dan tumpukan baju dalam almari
Sambal Jeruk
Biji tomat menyambutku
di batas pintu
“aku tak diulek tangan wanita,”


