Showing posts with label Movie Review. Show all posts
Showing posts with label Movie Review. Show all posts

Thursday, 24 March 2016

[MOVIE] Cloud Atlas: Berani Keluar dari Rasa Nyamanmu?

       Sudah berapa lama sejak terakhir kali kalian menonton film yang membingungkan? Kalau sudah lama, sebaiknya kalian mulai lagi menonton jenis film semacam itu dengan film ini. Cloud Atlas. Saat seseorang merekomendasikan film ini saja, dia sampai merasa perlu berkata, “Saya baru paham film ini setelah menonton yang kesekian kalinya.” Film yang memiliki enam setting waktu berbeda ini menurutku sangat inspiratif tapi dengan cara yang membingungkan.

           Mari kita urai sedikit tentang keenam setting di film ini. Setting pertama adalah Pacific Selatan pada 1850, tentang seorang pengacara yang dikhianati orang kepercayaannya dan justru diselamatkan oleh seorang budak yang baru ia kenal. Setting kedua bertempat di Scotlandia pertengahan 1930an, tentang seorang musisi gay muda yang jenius dan mulai mencari pengakuan dengan bekerja pada seorang musisi ternama saat itu. Yang ketiga, 2012, bercerita tentang seorang pengusaha penerbitan yang tiba-tiba menjadi kaya dengan menjual buku memoar seorang penjahat Irlandia tanpa royalti yang layak. Untuk menyelamatkan dia yang dikejar-kejar oleh penjahat tersebut (demi royalti yang layak), sang adik memasukkannya ke sebuah tempat yang awal mulanya ia anggap hotel namun ternyata adalah panti jompo dengan pengamanan yang sangat ketat.

          Set keempat di tahun 1973 dimana ceritanya berpusat pada seorang wartawan investigatif (Halle Berry) yang berusaha mengetahui konspirasi konglomerat yang mengancam dunia. Setting kelima yakni di masa depan, tahun 2146, berlokasi di sebuah kota bernama Brave New Seoul. Masa dimana manusia banyak membuat kloning-kloning hanya untuk digunakan sebagai pelayan/pekerja. Sedangkan setting yang terakhir adalah masa post-apokaliptus di masa depan yang bercerita tentang seorang pria bernama Zachary (Tom Hanks) yang berada di tengah-tengah kelompok yang beradab bahkan ketika mereka dikelilingi oleh para barbar yang kanibal.

        Cloud Atlas adalah film adaptasi dari novel karangan David Mitchell yang kemudian disutradarai oleh Tom Twyker dan The Wachowski. Dengan enam latar waktu yang berbeda-beda ini, kamu bayangkan saja pikiranmu dibawa berjalan-jalan menggunakan rolller coaster waktu. Pada awalnya aku menebak bahwa masing-masing setting di film ini bukan merupakan setting waktu yang berbeda melainkan dunia yang berbeda. Semacam dunia paralel seperti pada film The One yang dibintangi Jet Li.

          Tapi kemudian hipotesisku ini terpatahkan oleh adanya koneksi linier dalam setting waktu yang berbeda seperti antara setting waktu si musisi gay (1930an) dengan setting waktu si wartawan (Halle Berry), 1973. Pada kedua setting waktu berbeda tersebut, kekasih si musisi gay harus mati  di masa depan yang membuat si wartawan menggali lebih jauh tentang kehidupan pribadinya yang kemudian membawanya bertemu dengan musik yang dikomposisi oleh si musisi gay tersebut. 

         Well, di pertengahan film, aku mulai berhenti menebak-nebak. Buat apa memperumit diri sendiri bukan? Aku nikmati saja filmnya. Menikmati bagaimana hampir di setiap setting berbeda tersebut, kamu akan menemukan orang-orang yang berjuang untuk “keluar” dan melawan dunia sekitarnya. Si musisi gay yang berhasil lepas dari musisi tua yang memanfaatkan talentanya. Si manusia kloning yang melakukan perlawanan terhadap manusia yang menganggap mereka tak lebih dari sekedar objek kumpulan protein semata. Si manusia era post-apokaliptus yang bertempur melawan takhayul dan pikiran pribadinya. Si pengacara yang keluar dari zona nyaman dan memutuskan menjadi pembela kalangan afro-america. Si wartawan yang melawan konspirasi politik. Atau si penerbit tua yang lolos dari cengkeraman si adik dan panti jompo yang dikelolanya. 

         Dan di akhir film ini, sebingung apapun kamu telah dibikinnya. Kamu akan mulai lagi bertanya. Hari ini, kenyamanan macam apa yang telah kamu lawan?
         Mari nonton.

Friday, 4 March 2016

[MOVIE] Interstellar: Dimana Tempatmu Diantara Bintang-Bintang?

             Direkomendasikan oleh seseorang, aku memilih menonton film ini lebih dulu daripada film yang paling disarankannya. Entahlah, rasanya sudah lama tidak menonton film seperti ini. Maklum, aku sibuk (buahahaha).

           Interstellar merupakan film besutan Christoper Nolan yang juga merangkap sebagai penulis bersama Jonathan Nolan. Dibintangi oleh  Matthew McConaughey sebagai Cooper,  Anne Hathaway  sebagai Amelia Brand, Michael Caine ( Prof. Brand) dan Jessica Chastain (sebagai Murphy dewasa). Selain itu ada juga  Mackenzie Foy sebagai Murphy kecil. Film ini adalah film sci-fi yang heart-taking mengingat aku hampir tidak meninggalkan tempat dudukku sepanjang film ini kuputar.

         Jadi, ceritanya, di masa yang akan datang, bumi sudah mulai sekarat (dalam artian yang sebenarnya). Penyakit tanaman merajalela sehingga mengakibatkan krisis makanan terjadi. 

“We used to look up and wonder about our place in the stars,” Cooper grumbles. “Now we just look down and worry about our place in the dirt.”

 Di sinilah, misi rahasia NASA dilakukan dalam rangka menemukan planet baru pengganti planet bumi. Misi luar angkasa yang dipimpin oleh Cooper ini harus bertarung dengan waktu. Relativitas waktu membuat setiap detik yang mereka lalui di luar angkasa sana sangat berharga, apalagi misi pribadi Cooper adalah menyelamatkan anak-anaknya dari bumi yang sudah tidak bisa ditolong lagi. Semakin banyak waktu yang terbuang, maka bisa jadi anak-anaknya justru telah menua dan mati.

           Sepanjang film yang berdurasi hampir 3 jam ini, perasaan kita turut kacau-balau memikirkan mampu-tidaknya seorang ayah memenuhi misinya. Apalagi dengan konflik yang terjadi dengan si anak yang merasa ditinggalkan. Belum lagi tentang pengkhianatan terencana oleh salah satu astronot pendahulu mereka. Beh. Kacau alam pikiran dibuatnya. Selain itu, hal mengagumkan lain adalah, terlepas dari bahwa ini kisah fiksi, rasa-rasanya tidak ada logika yang tidak masuk akal di film ini (khas Nolan).

Nolan, sang sutradara tampaknya adalah seorang ideolog tulen, visioner, dan pemimpi kelas berat. Sebagai penonton, aku membayangkan bagaimana ide film ini ditemukan. Misalkan saja Bang Nolan sedang guyon sama Nolan lainnya (kedua-duanya bekerja sama sebagai penulis),

“Oi, Bro. Aku lagi bored nih. Kita bikin film yuk?”
“Aku sih ayo-ayo aja. Tapi film tentang apa Kangmas?”
“Kamu tahu reltivitas waktu kan?”
“Tahu, Kangmas.”
“Gravitasi?”
“Tahulah dikit-dikit, Kang.  Dulu sempat bolos sih pas pelajaran itu.”
“Oh, jadi dulu kamu suka bolos sekolah?”
PLAK! (dan cerita berakhir dengan sebuah tamparan)
-_-
Apa sih....

           Haish.. jadi intinya, film ini membuat aku menangis. Tiga kali. Tentu saja itu bukan indikator bagus-tidaknya sebuah film. Aku cuma pengen bilang. Aku tidak mau menangis sendirian, juga tidak ingin hanya aku yang mengagumi si Murphy, atau sendiri merasa istimewa diperlihatkan imajinasi sang Sutradara dan Penulis tentang Lubang Hitam. So, ayo download filmnya, tonton, dan kita bahas sama-sama.

Thursday, 3 March 2016

[Movie] 12 Angry Men: Ketika Nyawa Seseorang di Tanganmu

            Film klasik produksi tahun 1957. Film ini menceritakan 12 orang hakim juri yang tengah berdiskusi dalam rangka mengambil keputusan terkait bersalah-tidaknya seorang anak 18 tahun atas pembunuhan ayahnya. Pembunuhan tingkat pertama. Saat itu, hukumannya adalah hukuman mati. Maka, jika kedua-belas hakim juri memutuskan “bersalah”, si anak akan berakhir mati di kursi listrik.

        Hampir seluruh bukti dan kesaksian mengarah pada “bersalah”nya si anak. Dan terbukti, saat pertama kali hakim juri mengambil suara (di sebuah ruang tertutup), suara yang terkumpul adalah 11 : 1 untuk “bersalah”. Hanya ada satu orang saja. Yang bukannya betul-betul menganggap bahwa anak itu tidak bersalah. Tapi merasa ada banyak keraguan-keraguan terkait apa yang dipaparkan dalam persidangan. Keraguan-keraguan yang tidak layak diabaikan dan kemudian mengorbankan satu nyawa.

         Satu suara yang berbeda sendiri ini membuat beberapa juri lain menjadi berang. Ada 12 orang di dalam ruangan terkunci dalam kondisi cuaca “gerah sebelum hujan” (aku tidak tahu kalian memahami frase ini atau tidak). Kedua-belas orang yang berbeda latar belakang pekerjaan; pembuat jam, pialang saham, pembuat iklan, arsitek, dan sebagainya, yang  menjadi juri hanya karena panggilan melalui surat. Karena satu suara “berbeda”, orang-orang ini teraduk-aduk emosi dan logikanya untuk sebuah keputusan hidup dan mati.
         
       Oke, sampai di situ saja spoilernya. Film hitam-putih ini, 98%-nya hanya berlatar tempat di satu ruangan tertutup dimana mereka melakukan proses pengambilan keputusan itu. Menakjubkan bagaimana dalam satu latar saja, emosi kita sebagai penonton dapat ikut terbawa mengikuti plot cerita dan konflik yang kemudian terbangun. Sebelum menonton film ini, aku membayangkan dua jam menonton film yang hanya bertempat di satu lokasi saja. Tanpa narasi dan detail yang kuat atau unsur apapun lainnya yang dimiliki oleh film ini, pastilah sangat membosankan. 

        Disutradarai oleh Sidney Lumet, naskah oleh Reginald Rose. Oh, dan tentu saja tak kalah penting si kameramen keren Boris Kaufman. Kerjasama ketiganya membuat film ini menjadi cemerlang bahkan dengan ide drama sederhananya. Kuatnya narasi yang dibangun Rose dan karakter yang meyakinkan serta sangat natural yang dimainkan oleh para aktor membuat film ini menjadi asik yang tidak boleh dilewatkan para pecinta film.

         Dan, sebagaimana setiap review film yang aku tulis. Aku ingin mengingatkan bahwa aku bukan pengamat film, murni subjektif pribadi tanpa embel-embel teori. Jika suka, mari download filmnya, nonton, dan kita bahas sama-sama. :)

Friday, 22 January 2016

Masalah Buruh Migran: Semoga tak Hanya Berakhir dalam Doa

Malam tadi (21/1) aku habiskan dengan nonton bareng film pendek Menya(m)bung Nasib di Negeri Orang (Sutradara: Anton Susilo). Film ini kira-kira bercerita tentang nasib seorang gadis remaja yang menjadi buruh migran dikarenakan kondisi ekonomi keluarga mereka yang tidak baik. Yang pada akhirnya justru memberikan nasib buruk pada si gadis. 

Film ini, jika boleh saya menebak, tentu berangkat dari kegelisahan sang sutradara tentang jumlah buruh migran asal NTB yang terus meningkat setiap tahunnya dan pula tingginya tingkat kasus buruh migran yang bernasib naas di negeri seberang. Kegelisahan yang tentu saja beralasan. 

Berkaca dari tahun sebelumnya,  (data tahun 2015 belum rilis- sejauh yang saya tahu) jumlah buruh migran asal NTB 2014 yakni 56.672, meningkat jauh dari yang 2013 sejumlah 45.000 (sumber: antaranews.com). Ini menunjukkan animo masyarakat yang masih tinggi meskipun ragam kasus telah menimpa saudara-saudara kita yang lebih dulu menjadi buruh migran.

Menyalahkan kondisi ekonomi yang tidak baik sebagai alasan menjadi buruh migran tentu menjadi sebuah alasan dangkal tentang kondisi sosial ini. Menjadi buruh migran adalah sebuah pilihan. Cerdas dan-atau tidak cerdas. Diantara ada dan-atau tiadanya pilihan lain. Puisi yang dipentaskan oleh kawan-kawan Sanggar Teater Samawa semalam pun sedikit banyak menyalahkan minimnya lapangan pekerjaan sebagai penyebab tingginya angka buruh migran asal NTB ini. 

Cerdas dan-atau tidak cerdas. Saya katakan demikian karena selain merasa sedih dengan banyaknya kejadian buruk yang menimpa saudara-saudara kita di luar sana, saya juga mengenal dan tahu bahwa ada banyak buruh migran indonesia yang bernasib baik (nasib?). Para buruh migran ini memilih menjadi buruh migran. Disebabkan baiknya nasib yang mereka dapatkan sebelumnya. Atau mendengar kisah-kisah baik dari para rekan mereka yang sudah berada di sana. Apakah ini cerdas? Memilih dengan melalui sebuah rangkaian pertimbangan menurut saya adalah sebuah upaya menentukan pilihan secara cerdas. 

Dan tentu tidak cerdas jika tanpa dibarengi proses demikian. Apakah ada yang seperti itu? Tentu banyak. Terlepas dari anomali-anomali semacam yang diangkat oleh Mas Anton (akrabnya), bahwa banyak yang memalsukan umur, buruh migran kita adalah orang-orang dewasa yang seringkali tidak memiliki cukup pengetahuan tentang apa yang akan dilakukan, situasi negara tujuan, atau hal-hal krusial yang mereka butuhkan. 

Ada dan-atau tiadanya pilihan lain. Bukankah sering kita mendengar bahwa Indonesia tidak menyediakan cukup lapangan perkerjaan bagi masyarakatnya. Atau bukankah sering pula kita mendengar tingginya jumlah pengangguran. Atau sekedar keluh-kesah tetangga kita tentang anak-keponakan-cucu-saudara nya yang belum juga mendapatkan pekerjaan. Menjadi buruh migran sering disandingkan dengan alasan bahwa mereka tidak memiliki pilihan lain di negeri sendiri. Ingin menjadi petani, lahan sudah habis terjual, menjadi buruh tani mungkin tak mampu mencukupi. Sedangkan pekerjaan lain tak mampu dilakoni. 

Atau apakah iya kesempatan itu tidak ada? Seringkali ketika saya bertemu pemilik sebuah usaha, mereka menceritakan betapa sulitnya mereka menemukan tenaga untuk membantu mereka. Ini tentu bukan masalah ijazah. Sebab bahkan para pemegang ijazah sekolah tinggi pun banyak yang menganggur.
***
Baik dari cerdas-tidak cerdasnya pilihan menjadi buruh migran atau ada-tiadanya pilihan lain selain itu, kedua hal ini saya rasa bermuara pada tingkat pendidikan masyarakat.  Tentang pendidikan ini tentu sudah sering kita dengar tiap kali bahasan terkait buruh migran digelar. Pemerintahan Jokowi bahkan dikatakan sangat menaruh perhatian pada nasib buruh migran Indonesia. Balai-balai latihan kerja digalakkan untuk mempersiapkan para buruh migran, dan buruh migran non-prosedural dipangkas sebisa mungkin.

Tapi menurutku, jika ingin hal baik menimpa buruh migran kita ke depannya. Bukan hanya pendidikan pra-keberangkatan saja yang perlu dilakukan. Upaya preventif yang jauh lebih kuat-lah yang dibutuhkan. Pendidikan yang jauh lebih mengakar-lah yang harus dilakukan. Yakni pendidikan sejak dini. Pendidikan yang mampu membuka pikiran anak-anak sedari dini bahwa pekerjaan (atau pun kesempatan) tak melulu harus dicari tapi terkadang perlu diciptakan. 
 
Jika negara tidak mampu hadir untuk memfasilitasi hal ini. Kacaulah negara kita. Sebab, masalah pendidikan yang saya bicarakan ini juga menjadi masalah mengapa terorisme semakin marak itu. Atau juga menjadi penyebab minimnya lapangan pekerjaan di Indonesia yang tentu mengganggu kehidupan ekonomi masyarakatnya. Atau juga ingin menyebutkan masalah paling kronis bangsa ini- karakter merasa rendah, merasa kalah, merasa miskin- yang menyebabkan banyak orang korupsi, menyebabkan banyak orang merasa inferior di hadapan asing.

Dan, tentu apalah arti segudang teori tanpa dijalani. Mengutip kata Sukarno, “Revolusi tidak datang hanya karena kita berteriak-teriak Revolusi...revolusi...revolusi sampai mati.” Marilah kita anggap kita tengah berjuang melakukan upaya revolusi (mental?). Maka jangan hanya berteriak-teriak saja. Teori-teori saja. Tapi juga butuh perbuatan. Atau tentu kita tidak mau pula tragedi-tragedi naas yang menimpa buruh-buruh migran Indonesia berakhir dalam sebuah doa, sebagaimana Sanggar Teater Samawa menutup pentas teatrikalnya semalam. 

Apapun itu, pada akhir tulisan ini, perkenankan saya atas nama pribadi mengucapkan selamat dan sukses atas pemutaran dan diskusi film Menya(m)bung Nasib di Negeri Orang semalam. Mas Anton Susilo, melalui film ini telah “berbuat”. Semoga perbuatannya mengakar, menjalar, dan tumbuh  menjadi sesuatu yang hebat. Dan tentu saja karena acara semalam juga merupakan rangkaian perayaan HUT Kabupaten Sumbawa ke-57, saya yang lahir dan besar di Sumbawa ini juga  mengucapkan Dirgahayu Kabupaten Sumbawa tercinta. Dirgahayu. Dirgahayu. Hingga nanti-nanti.


Sunday, 29 November 2015

[MOVIE] The Godfather: Film Bunuh-Bunuhan tentang Keluarga

Michael Corleone merupakan anak dari Don salah satu kelompok mafia besar di Amerika. Ia dijuluki “college student” oleh keluarganya karena ia merupakan satu-satunya anak Vito Corleone yang tidak ingin mencampuri bisnis keluarga dan hanya menjadi seorang sipil biasa. Ayahnya tetap bangga dengan Michael yang seperti itu.

Namun satu kejadian membuat Michael yang terkenal “anak baik-baik” itu harus turun tangan membantu keluarganya. Ayahnya nyaris terbunuh. Dan tidak ada yang dapat lebih memaksa Michael untuk mengambil sikap, selain dari keselamatan keluarganya. Akhirnya Michael pun ikut membunuh. Hal ini kemudian berlanjut membuat Michael harus menjadi Don selanjutnya di kelompok itu, apalagi setelah kakaknya menjadi salah satu korban yang tewas dalam peperangan yang berlangsung antar kelompok mafia.

Sebagai seorang pecinta buku aku merasa sedih karena belum membaca versi novelnya. Dan sebagai penikmat film, aku merasa sangat menyesal karena aku selalu menghindari untuk menonton film ini sejak dulu, hingga akhirnya aku menontonnya di Tahun 2015 ini (43 tahun sejak dirilisnya film ini).

Film ini merupakan film besutan sutradara Francis Ford Coppola yang diangkat dari novel Bestseller Mario Puzo. Mengambil latar di Amerika, film ini berpusat pada kelompok kelarga Corleone yang keturunan Italia.

The Godfather membuat aku jatuh cinta pada keseluruhan filmnya. Aku tidak tahu apakah itu karena cinematorafinya, akting para pemainnya, musik, atau hal-hal lainnya, yang jelas film itu sangat memukau bahkan untuk ukuran film panjang, 2 jam 48 menit) film itu tidak membuatku bosan.

Film ini membuat kita serasa menyatu dengan keluarga Corleone, yang bahkan saat ia membunuh pun kita turut membenarkannya. Kita menjadi prihatin saat si “anak baik-baik” Michael harus juga ikut menjalankan bisnis keluarga. Tapi tentu saja dia harus! Siapa yang mampu berpaling dari ayah macam Vito Corleone? Yah, terlepas dari pembunuhan yang sering ia lakukan, ia adalah seorang “Godfather” yang sangat menjunjung tinggi nilai keluarga dan setiakawan dalam kelompoknya.

Vito Corleone, sang Godfather, masih harus terbaring lemah setelah insiden penembakannya. Ia menjadi penasihat bagi Michael yang menjadi Don baru. Kamu melihat seorang ayah dan seorang pemimpin besar dalam dirinya. Seorang pemimpin besar menurutku dinilai dari bagaimana cara ia mempersiapkan penerusnya. Dan ia berhasil melakukan itu, mempersiapkan Michael yang awalnya sulit mendapatkan kepercayaan para anggota kelompoknya menjadi seorang pemimpin kelompok yang disegani (atau ditakuti?).

Film ini film bunuh-bunuhan. Tapi haruskah aku sebut film keluarga juga? Karena ya, Vito Corleone juga mengajarkan cara menyayangi keluarga.
“Jika seorang lelaki tidak menghabiskan waktu bersama keluarga maka ia bukanlah lelaki sejati.”
Kakak Michael, Sonny, tewas dalam perjalanannya menyusul sang adik perempuan yang disiksa oleh suaminya. Vito Corleone pun hampir serupa, meski bukan dibunuh, ia tewas saat tengah bermain-main dengan cucunya, anak Michael.

Well, aku yakin ada banyak orang yang telah menonton film ini. Film ini sangat terkenal dan telah mengambil tempat di hati banyak orang. Jadi dalam review kali ini aku tidak akan membahas satu pun kekurangannya (lagian aku bukan pengamat perfilman juga sih :P).

Nonton lagi yuk! :)


Friday, 27 November 2015

[Movie] Cinema Paradiso: Film Klasik Wajib Tonton

Cinema Paradiso ini merupakan film yang diproduksi tahun 1988. Film Italia yang memakai judul  Nuovo Cinema Paradiso di negeri asalnya ini disutradarai oleh Giuseppe Tornatore. Gak kenal? iya, aku juga. Film ini berkisah tentang seorang anak bernama Toto yang jatuh cinta sejatuh-jatuhnya pada bioskop dan film.
Toto, merupakan anak berperawakan kecil yang menurut standarku, sangat nakal. Well, sangat cerdik tepatnya. Dan pintar? hmm.. iya, pintar juga. Ia menggunakan kepintarannya itu untuk mendapatkan izin memasuki ruang pemutar proyektor di bioskop "Cinema Paradiso". Dengan segala cara, ia akhirnya dapat membuat Salvatore (pengoperasi proyektor di bioskop itu) mengajarinya cara mengoperasikan proyektor dan segala hal yang berkaitan dengan itu.

Para warga di kampung kecil itu sangat menyukai film tapi tentu saja tidak semua orang dapat membayar. Jadi scene paling membahagiakan dalam film ini menurutku adalah saat Salvatore memproyeksikan filmnya ke luar gedung bioskop agar dapat ditonton oleh mereka yang ditolak masuk bioskop. What a scene! Yah, meskipun kebahagian tersebut berakhir tragis (langsung tonton aja!).

Film ini menggunakan alur mundur-maju, dimana Toto dewasa telah menjadi seorang sutradara sukses yang mengingat lagi masa kecilnya. Salvatore meninggal, dan ia harus pulang. Kembali ke kampung halamannya yang telah ia tinggalkan selama 30 tahun.

Aku sangat menyukai film ini. Penyebabnya agak sulit kuceritakan. Yang jelas film ini sangat manis. Seorang anak kecil yang telah tahu apa yang ingin dilakukannya (kesan yang ditimbulkannya mirip dengan film Augustus Rush). Sebagai penonton, pasti akan dapat merasakan bagaimana besar kecintaan Toto pada film. Selain itu juga, karena ini film klasik, kita masih dapat menemukan kisah tentang guru Toto yang membenturkan kepala muridnya ke papan tulis karena tidak mampu menghapal perkalian (scene ini bikin senyum-senyum sendiri).

Dan after all, aku cuma mau ngajak kalian semua buat menikmati film ini. Mari Nonton. :)





Friday, 9 May 2014

Wednesday, 7 May 2014

(Movie Review) The Book Thief: Manusiawi di Era NAZI


Film yang disutradarai oleh Brian Percifal ini diadopsi dari novel bestseller dengan judul yang sama karangan David Zusak. Aku belum pernah membaca novelnya. Aku mensyukuri fakta tersebut, karena dengan demikian aku tidak memenuhi pikiranku dengan pembandingan-pembandingan antara detil yang ada di novel yang seringkali tidak mampu disampaikan pada versi filmnya.
Film ini berlatar-belakang Jerman pada masa kekuasaan Hitler. Pada 1938, seorang gadis kecil bernama Liesel harus terpisah dari ibunya yang seorang komunis akibat situasi Jerman yang saat itu tidak “ramah” pada komunis.