Membaca buku karangan Edward P
Jones ini seperti tersedot masuk dalam putaran waktu yang membawa kita
kesana-kemari dan tidak kuasa untuk menolak. Edward menggunakan alur
maju-mundur dan menceritakan kisah banyak tokoh di dalamnya. Meski demikian,
seluruh kisah sepertinya berpusat pada satu nama belakang, Townsend. Tentang Henry
Townsend, Augustus Townsend, Caldonia Townsend, dan para budak perkebunan
Townsend, sedangkan kisah-kisah dari para orang lain masih tetap berkutat
tentang masalah perbudakan, dan tentu saja tidak jauh-jauh dari lingkungan
keluarga Townsend.
Buku ini direkomendasikan (dan
dipinjamkan :p) oleh seorang teman yang mengatakan bahwa novel ini adalah salah
satu novel terkuat yang dibacanya TAHUN LALU. Oke, garis bawahi kata “tahun
lalu”. Itu artinya aku terlambat satu tahun membaca buku itu. Tapi memang iya
buku ini bagus. Meskipun harus aku baca dengan lambat dan baru kuhabiskan selama
satu bulan -_- .
Nah, bagian menyenangkan dari
menulis tentang novel yang sudah aku baca adalah menceritakan apa (atau siapa) yang
aku suka dari novel ini. Novel ini berjudul The Known World tapi bercerita
tentang The Unknown World for me. Kisah
tentang perbudakan kulit hitam oleh kulit putih di Amerika memang sudah ditulis
oleh banyak penulis, sebagaimana kisah tentang PKI dan tragedi ’65 sudah banyak
ditulis di Indonesia. Tapi tetap saja. Semakin membaca semakin banyak hal yang
kamu rasa tidak kamu ketahui. Dan karena itu setiap bacaan itu berharga.
Dan bila ditanya siapa tokoh
favoritku di novel ini, maka akan aku jawab “Alice”. Alice Night. Sang pengembara
malam. Dialah yang menurutku menjadikan novel ini begitu berkesan bagiku. Aku menyukai
lagu yang ia nyayikan sepanjang ia berpura-pura gila dan keluyuran.
aku menemukan lelaki mati terbaring di jalan
kecil
tuanku
kutanya siapakah nama lelaki itu
ia mengangkat kepalanya yang kurus dan
melepas
topi
ia berkata itu ini
Sedangkan kisah paling menyayat
hati dalam novel ini menurutku adalah saat sang ayah, Augustus Townsend,
seorang pria merdeka yang bercita-cita memerdekakan lebih banyak budak lagi,
harus kembali terjebak dalam perbudakan. Tidak ada yang lebih mengerikan dan
menyakitkan daripada itu.
Buku ini, dalam penceritaannya
mengingatkan aku pada Les Miserables-nya Victor Hugo. Tapi The Known World
menurutku lebih mampu membawaku tenggelam dalam kisahnya. Tapi tentu saja
pendapat itu bukanlah pendapat profesional.
Tentang kemiripan The Known World
dengan Les Miserables, aku bahkan tidak ingat alur seperti apa yang digunakan
Victor Hugo, hanya saja aku mengingat bahwa ada banyak tokoh yang dikisahkan
dan rasa-rasanya selalu menceritakan kesedihan. Sedangkan tentang kesukaanku
yang lebih pada The Known World sepertinya bisa dipengaruhi banyak hal. Bisa
jadi karena Edward P Jones adalah seorang Amerika yang karenanya terjemahan
karyanya menjadi lebih “renyah” dibandingkan terjemahan karya Victor Hugo. Atau
bisa juga karena apapun juga. Entahlah. Baca saja yuk :D

0 comments:
Post a Comment