Friday, 20 November 2015

[Book] Kota kertas

John Green. Aku berkenalan pertama kali dengannya melalui The Fault in Our Stars. Setelah itu aku jatuh cinta dengan penulis satu ini. Karena itu aku beli pula buku-buku lain yang ia tulis.

Kali ini aku akan sedikit membahas pengalamanku berselancar di dunia "Paper Town". Buku John Green kedua yang aku baca.

Di buku ini ia bercerita tentang seorang gadis populer bernama Margo dan seorang teman masa kecilnya yang tumbuh menjadi remaja tak-populer, Quentin.

Meski sudah tak akrab lagi setelah insiden masa kecil mereka, dimana mereka menemukan sesosok mayat, pada hari itu mereka menghabiskan malam bersama untuk melakukan "proyek balas dendam" Margo. Quentin pada akhirnya menjadi satu-satunya orang yang Margo inginkan untuk melakukan hal itu bersama-sama.

Hari setelah malam itu, Margo menghilang. Pergi dari rumahnya. Bukan hal yang baru, tapi kali ini Quentin merasa Margo pergi untuk selamanya. Sejak saat itu, Quentin memulai pencariannya. Dan ia mulai menemukan Margo-Margo baru setiap saat. Sisi yang tidak dikenalnya dari Margo yang selama ini dibayangkan. Hingga akhirnya ia berkesimpulan.

"Margo bukan keajaiban. Dia bukan petualangan. Dia bukan sosok yang luar biasa dan berharga. Dia hanya seorang gadis."

Kota kertas. Merupakan istilah yang digunakan Margo untuk menunjukkan betapa rapuh dan palsunya kota-kota yang dipenuhi orang-orang "kertas". Orang-orang yang melakukan rutinitasnya. Melupakan cara menjadi dirinya sendiri. Menyukai apa yang disukai orang lain.  Mengejar apa yang setiap orang kejar. Margo merasa bahkan dirinya telah berubah menjadi salah satu perempuan kertas.

Betapa buku ini penuh dengan perenungan dengan cara yang unik. A la John Green tentu saja. Ke-vickynisasi-annya belum hilang.

Dan bila ada temanku yang menanyakan novel ini berkisah tentang apa. Aku hanya bisa menjawab "Kota Kertas".  Mari Baca ^.^

0 comments: