Wednesday, 7 May 2014

(Movie Review) The Book Thief: Manusiawi di Era NAZI


Film yang disutradarai oleh Brian Percifal ini diadopsi dari novel bestseller dengan judul yang sama karangan David Zusak. Aku belum pernah membaca novelnya. Aku mensyukuri fakta tersebut, karena dengan demikian aku tidak memenuhi pikiranku dengan pembandingan-pembandingan antara detil yang ada di novel yang seringkali tidak mampu disampaikan pada versi filmnya.
Film ini berlatar-belakang Jerman pada masa kekuasaan Hitler. Pada 1938, seorang gadis kecil bernama Liesel harus terpisah dari ibunya yang seorang komunis akibat situasi Jerman yang saat itu tidak “ramah” pada komunis.
Liesel dititipkan pada keluarga Hauberman yang digambarkan miskin dan sangat berharap pada tunjangan yang akan diterima jika mereka mengadopsi Liesel. Meski demikian, Hans Hauberman menjalani perannya sebagai seorang Papa dengan sangat tulus. Sedangkan sang Mama, Rosa Hauberman memiliki rasa sayang yang berbanding terbalik dengan kata-katanya yang tajam. Liesel yang pada awalnya kesulitan beradaptasi pun berangsur-angsur merasa nyaman, apalagi dengan adanya Rudy Steiner, sahabatnya.
Suatu hari, rumah Hauberman kedatangan seseorang yang telah dinanti sejak lama. Ialah Max, seorang anak dari penyelamat nyawa Hans Hauberman. Ia seorang Yahudi. Saat itu penyerangan dan pembunuhan terhadap Yahudi sedang terjadi dimana-mana di Jerman. Max mencari perlindungan dan di rumah itu ia mendapatkan lebih dari sekedar atap tempat bernaung. Max berkenalan dan menjadi akrab dengan Liesel. Liesel menjadi mata bagi Max yang -demi keamanannya- hanya boleh berada di ruang bawah tanah rumah tersebut. Setiap hari, Liesel akan menceritakan suasana di luar rumah pada Max. Tentang matahari, cuaca, bintang, salju. Max secara tidak langsung mendorong Liesel menjadi seorang pencerita. Menjadi seorang pecinta kata-kata.
Film yang diproduksi pada 2013 lalu ini menunjukkan bagaimana sebuah keluarga masih terjaga rasa kemanusiaannya. Pada masa kekuasaan Hitler, rasa kemanusiaan menjadi sebuah hal yang langka. Pada masa itu, rasa kemanusiaan bisa langsung mangantarkan pada kematian atau yang lebih buruk, penyiksaan. Entah harus berterimakasih pada penulis naskah ataukan pada penulis novelnya, tapi plot cerita yang membuat hal tersebut terpahami dengan jelas, menyisakan perasaan hangat yang dapat bertahan beberapa lama setelah menontonnya.
Selain itu, film ini berhasil menunjukkan gairah kecintaan Liesel terhadap buku menggunakan detil-detil yang tak putus sepanjang film. Dari seorang remaja komunis yang tidak bisa membaca, ia berubah menjadi pecinta buku dan dengan dorongan Max kemudian juga mulai menulis dan bercerita. “Words are life, Liesel,” ujar Max suatu kali saat menerangkan pada Liesel bahwa yang membedakan antara segumpal tanah dengan mereka yang hidup hanyalah sebuah kata.
Aku menikmati pesan-pesan yang disampaikan pada film ini. Hanya saja, janji judul film ini yakni “The Book Thief” hanya mendapatkan porsi cerita yang singkat. Ia mencuri beberapa buku untuk dibacakan pada Max dan that’s it, itu saja. Bagiku, film ini juga kurang mampu memberikan ketegangan yang sewajarnya, khususnya yang terkait dengan betapa mengerikannya menjadi ataupun berhubungan dengan seorang Yahudi di Jerman. Tapi bisa jadi penceritaan semacam itu menjadi pilihan sang sutradara. Menunjukkan hal kelam dengan soft. Well, who knows? J

0 comments: