Film yang
disutradarai oleh Brian Percifal ini diadopsi dari novel bestseller dengan
judul yang sama karangan David Zusak. Aku belum pernah membaca novelnya. Aku
mensyukuri fakta tersebut, karena dengan demikian aku tidak memenuhi pikiranku
dengan pembandingan-pembandingan antara detil yang ada di novel yang seringkali
tidak mampu disampaikan pada versi filmnya.
Film ini
berlatar-belakang Jerman pada masa kekuasaan Hitler. Pada 1938, seorang gadis
kecil bernama Liesel harus terpisah dari ibunya yang seorang komunis akibat
situasi Jerman yang saat itu tidak “ramah” pada komunis.
Liesel dititipkan pada keluarga Hauberman yang digambarkan miskin dan sangat berharap pada tunjangan yang akan diterima jika mereka mengadopsi Liesel. Meski demikian, Hans Hauberman menjalani perannya sebagai seorang Papa dengan sangat tulus. Sedangkan sang Mama, Rosa Hauberman memiliki rasa sayang yang berbanding terbalik dengan kata-katanya yang tajam. Liesel yang pada awalnya kesulitan beradaptasi pun berangsur-angsur merasa nyaman, apalagi dengan adanya Rudy Steiner, sahabatnya.
Liesel dititipkan pada keluarga Hauberman yang digambarkan miskin dan sangat berharap pada tunjangan yang akan diterima jika mereka mengadopsi Liesel. Meski demikian, Hans Hauberman menjalani perannya sebagai seorang Papa dengan sangat tulus. Sedangkan sang Mama, Rosa Hauberman memiliki rasa sayang yang berbanding terbalik dengan kata-katanya yang tajam. Liesel yang pada awalnya kesulitan beradaptasi pun berangsur-angsur merasa nyaman, apalagi dengan adanya Rudy Steiner, sahabatnya.
Suatu hari,
rumah Hauberman kedatangan seseorang yang telah dinanti sejak lama. Ialah Max,
seorang anak dari penyelamat nyawa Hans Hauberman. Ia seorang Yahudi. Saat itu
penyerangan dan pembunuhan terhadap Yahudi sedang terjadi dimana-mana di
Jerman. Max mencari perlindungan dan di rumah itu ia mendapatkan lebih dari
sekedar atap tempat bernaung. Max berkenalan dan menjadi akrab dengan Liesel.
Liesel menjadi mata bagi Max yang -demi keamanannya- hanya boleh berada di
ruang bawah tanah rumah tersebut. Setiap hari, Liesel akan menceritakan suasana
di luar rumah pada Max. Tentang matahari, cuaca, bintang, salju. Max secara
tidak langsung mendorong Liesel menjadi seorang pencerita. Menjadi seorang
pecinta kata-kata.
Film yang
diproduksi pada 2013 lalu ini menunjukkan bagaimana sebuah keluarga masih
terjaga rasa kemanusiaannya. Pada masa kekuasaan Hitler, rasa kemanusiaan
menjadi sebuah hal yang langka. Pada masa itu, rasa kemanusiaan bisa langsung
mangantarkan pada kematian atau yang lebih buruk, penyiksaan. Entah harus
berterimakasih pada penulis naskah ataukan pada penulis novelnya, tapi plot
cerita yang membuat hal tersebut terpahami dengan jelas, menyisakan perasaan
hangat yang dapat bertahan beberapa lama setelah menontonnya.
Selain itu, film
ini berhasil menunjukkan gairah kecintaan Liesel terhadap buku menggunakan detil-detil
yang tak putus sepanjang film. Dari seorang remaja komunis yang tidak bisa
membaca, ia berubah menjadi pecinta buku dan dengan dorongan Max kemudian juga mulai
menulis dan bercerita. “Words are life, Liesel,” ujar Max suatu kali saat
menerangkan pada Liesel bahwa yang membedakan antara segumpal tanah dengan
mereka yang hidup hanyalah sebuah kata.
Aku menikmati
pesan-pesan yang disampaikan pada film ini. Hanya saja, janji judul film ini
yakni “The Book Thief” hanya mendapatkan porsi cerita yang singkat. Ia mencuri
beberapa buku untuk dibacakan pada Max dan that’s
it, itu saja. Bagiku, film ini juga kurang mampu memberikan ketegangan yang
sewajarnya, khususnya yang terkait dengan betapa mengerikannya menjadi ataupun
berhubungan dengan seorang Yahudi di Jerman. Tapi bisa jadi penceritaan semacam
itu menjadi pilihan sang sutradara. Menunjukkan hal kelam dengan soft. Well, who knows? J
0 comments:
Post a Comment