*Terimakasih pada Randi yang menghadiahkan buku ini
Allan Emmanuel Karlson, sebentar
lagi akan menghadiri pesta ulang tahunnya yang ke-100 saat ia memutuskan untuk
kabur dari panti jompo tempat ia dirawat. Ia tidak menyukai kekangan dan direktur
panti selalu memiliki aturan untuk dipatuhi.
Dengan hanya meggunakan sandal kamar, ia berjalan menuju stasiun bus. Di sana lah ia bertemu dengan salah seorang anggota kelompok kriminal Never Again yang mengikat Allan dengan nasib. Karena situasi-situasi yang dengan cepat terjadi, Allan berakhir dengan membawa satu koper penuh berisi uang milik kelompok kriminal tersebut.
Novel ini menceritakan kisah
Allan Karlson (nama tengahnya sudah sangat lama tidak ia gunakan) yang dianggap
memiliki sembilan nyawa. Ia berhasil selamat setelah menghina Stalin, ia juga
tidak mati ketika harus menyeberangi pegunungan Himalaya yang dingin, mendekam
di penjara Iran dan membumi-hanguskan penjara itu dengan bom.
Ia melewati banyak hal, malah ia
terlibat hal-hal penting dalam sejarah dunia, hampir di semua belahan. Ia yang
membantu barat (Amerika) menemukan cara memproduksi bom nuklir. Ia juga yang
memberikan petujuk pada ilmuan timur (Uni Soviet) tentang hal yang sama. Ia
tidak menyukai politik, tapi ia berperan dalam menyelamatkan nyawa istri Mao
Tse Tung, mempertahankan perjanjian pelucutan senjata antara Amerika dan Soviet,
ia bahkan menjadi orang kepercayaan beberapa presiden Amerika.
Mungkin itu semua berkat kemampuannya
melihat hal baik di balik segala hal. Ia tidak pernah risau. Yang terjadi,
terjadilah. Tidak ada gunanya mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi. Ia toh bisa saja mati lebih dulu sebelum yang dirisaukannya itu terjadi. Ia selalu
spontan. Maka jika ada yang meminta bantuan, ia akan membantu (asalkan bersedia
tidak berlama-lama membahas soal politik).
Ada dua latar belakang waktu yang
digunakan, yakni masa kini dan masa lalu Allan. Masa kini berisi kisah
petualangannya yang kabur dari panti jompo. Masih dengan keberuntungan yang
sama, ia bertemu dengan orang-orang yang pada akhirnya menjadi rekan
petualangannya.
Aku-yang tidak selalu mengagumi
tokoh inti cerita- tidak bisa tidak mengagumi Allan yang penuh keberuntungan
ini. Dan tentu saja tidak bisa menghindar untuk menyukai Jonas Jonasson. Ia menulis
novel ini dengan selera humor yang tinggi dan juga cerdas. Kisah-kisah sejarah
dirangkainya dengan humor-humor yang berasal dari kebersahajaan Allan. Dan yang
paling penting menurutku adalah, segalanya terdegar masuk akal. Keterlibatan Allan
pada semua peristiwa sejarah yang diceritakan, pun segala keberuntungan yang
dialaminya di masa kini.
Aku ingin menjadi Allan, menjadi
orang yang selalu bahagia. Bayangkan, dia harus berhadapan dengan para pemimpin
yang juga pembunuh pada abad 20. Hal itu saja paling tidak bisa membuat seorang pria
terkena serangan jantung setidaknya lima kali. Tapi dia tidak merisaukan
apapun, Ia hanya terganggu bila tidak dapat memperoleh vodka (atau bila lawan
bicaranya membicarakan politik sepanjang waktu). Maka tidak heran ia bisa
mencapai usia 100 tahun tanpa pernah mengalami sakit berat (abaikan fakta bahwa
ini fiksi).
Mari, kita semua belajar untuk tidak
merisaukan apapun. “Segalanya akan berjalan baik-baik saja. Kecuali bila
sebaliknya.” :)
Judul : The 100-Year-Old-Man Who Climbed Out Of the Window And Dissapeared
Pengarang : Jonas Jonasson
Penerbit : Bentang Pustaka
Penerjemah : Marcalais Fransisca
Original released in : Swedia (2013)
0 comments:
Post a Comment