Wednesday, 30 December 2015

[Novel] The 100-Year-Old-Man-……: Mari Berbahagia!


*Terimakasih pada Randi yang menghadiahkan buku ini 

Allan Emmanuel Karlson, sebentar lagi akan menghadiri pesta ulang tahunnya yang ke-100 saat ia memutuskan untuk kabur dari panti jompo tempat ia dirawat. Ia tidak menyukai kekangan dan direktur panti selalu memiliki aturan untuk dipatuhi.

Dengan hanya meggunakan sandal kamar, ia berjalan menuju stasiun bus. Di sana lah ia bertemu dengan salah seorang anggota kelompok kriminal Never Again yang mengikat Allan dengan nasib. Karena situasi-situasi yang dengan cepat terjadi, Allan berakhir dengan membawa satu koper penuh berisi uang milik kelompok kriminal tersebut.

Novel ini menceritakan kisah Allan Karlson (nama tengahnya sudah sangat lama tidak ia gunakan) yang dianggap memiliki sembilan nyawa. Ia berhasil selamat setelah menghina Stalin, ia juga tidak mati ketika harus menyeberangi pegunungan Himalaya yang dingin, mendekam di penjara Iran dan membumi-hanguskan penjara itu dengan bom.

Ia melewati banyak hal, malah ia terlibat hal-hal penting dalam sejarah dunia, hampir di semua belahan. Ia yang membantu barat (Amerika) menemukan cara memproduksi bom nuklir. Ia juga yang memberikan petujuk pada ilmuan timur (Uni Soviet) tentang hal yang sama. Ia tidak menyukai politik, tapi ia berperan dalam menyelamatkan nyawa istri Mao Tse Tung, mempertahankan perjanjian pelucutan senjata antara Amerika dan Soviet, ia bahkan menjadi orang kepercayaan beberapa presiden Amerika.

Mungkin itu semua berkat kemampuannya melihat hal baik di balik segala hal. Ia tidak pernah risau. Yang terjadi, terjadilah. Tidak ada gunanya mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi. Ia  toh bisa saja mati lebih dulu sebelum yang dirisaukannya itu terjadi. Ia selalu spontan. Maka jika ada yang meminta bantuan, ia akan membantu (asalkan bersedia tidak berlama-lama membahas soal politik).
 
Ada dua latar belakang waktu yang digunakan, yakni masa kini dan masa lalu Allan. Masa kini berisi kisah petualangannya yang kabur dari panti jompo. Masih dengan keberuntungan yang sama, ia bertemu dengan orang-orang yang pada akhirnya menjadi rekan petualangannya.

Aku-yang tidak selalu mengagumi tokoh inti cerita- tidak bisa tidak mengagumi Allan yang penuh keberuntungan ini. Dan tentu saja tidak bisa menghindar untuk menyukai Jonas Jonasson. Ia menulis novel ini dengan selera humor yang tinggi dan juga cerdas. Kisah-kisah sejarah dirangkainya dengan humor-humor yang berasal dari kebersahajaan Allan. Dan yang paling penting menurutku adalah, segalanya terdegar masuk akal. Keterlibatan Allan pada semua peristiwa sejarah yang diceritakan, pun segala keberuntungan yang dialaminya di masa kini.

Aku ingin menjadi Allan, menjadi orang yang selalu bahagia. Bayangkan, dia harus berhadapan dengan para pemimpin yang juga pembunuh pada abad 20. Hal itu  saja paling tidak bisa membuat seorang pria terkena serangan jantung setidaknya lima kali. Tapi dia tidak merisaukan apapun, Ia hanya terganggu bila tidak dapat memperoleh vodka (atau bila lawan bicaranya membicarakan politik sepanjang waktu). Maka tidak heran ia bisa mencapai usia 100 tahun tanpa pernah mengalami sakit berat (abaikan fakta bahwa ini fiksi).

Mari, kita semua belajar untuk tidak merisaukan apapun. “Segalanya akan berjalan baik-baik saja. Kecuali bila sebaliknya.” :)

Judul                                : The 100-Year-Old-Man Who Climbed Out Of the Window And Dissapeared
Pengarang                        : Jonas Jonasson
Penerbit                           : Bentang Pustaka
Penerjemah                      : Marcalais Fransisca
Original released in           : Swedia (2013)

0 comments: