Malam tadi (21/1) aku habiskan
dengan nonton bareng film pendek Menya(m)bung Nasib di Negeri Orang (Sutradara: Anton
Susilo). Film ini kira-kira bercerita tentang nasib seorang gadis remaja yang
menjadi buruh migran dikarenakan kondisi ekonomi keluarga mereka yang tidak
baik. Yang pada akhirnya justru memberikan nasib buruk pada si gadis.
Film ini, jika boleh saya
menebak, tentu berangkat dari kegelisahan sang sutradara tentang jumlah buruh
migran asal NTB yang terus meningkat setiap tahunnya dan pula tingginya tingkat
kasus buruh migran yang bernasib naas di negeri seberang. Kegelisahan yang
tentu saja beralasan.
Berkaca dari tahun sebelumnya, (data tahun 2015 belum rilis- sejauh yang
saya tahu) jumlah buruh migran asal NTB 2014 yakni 56.672, meningkat jauh dari
yang 2013 sejumlah 45.000 (sumber: antaranews.com). Ini menunjukkan animo
masyarakat yang masih tinggi meskipun ragam kasus telah menimpa saudara-saudara
kita yang lebih dulu menjadi buruh migran.
Menyalahkan kondisi ekonomi yang tidak
baik sebagai alasan menjadi buruh migran tentu menjadi sebuah alasan dangkal
tentang kondisi sosial ini. Menjadi buruh migran adalah sebuah pilihan. Cerdas dan-atau
tidak cerdas. Diantara ada dan-atau tiadanya pilihan lain. Puisi yang
dipentaskan oleh kawan-kawan Sanggar Teater Samawa semalam pun sedikit banyak
menyalahkan minimnya lapangan pekerjaan sebagai penyebab tingginya angka buruh migran
asal NTB ini.
Cerdas dan-atau tidak cerdas. Saya katakan demikian karena selain
merasa sedih dengan banyaknya kejadian buruk yang menimpa saudara-saudara kita
di luar sana, saya juga mengenal dan tahu bahwa ada banyak buruh migran indonesia
yang bernasib baik (nasib?). Para buruh migran ini memilih menjadi buruh migran. Disebabkan baiknya nasib yang mereka
dapatkan sebelumnya. Atau mendengar kisah-kisah baik dari para rekan mereka
yang sudah berada di sana. Apakah ini cerdas? Memilih dengan melalui sebuah
rangkaian pertimbangan menurut saya adalah sebuah upaya menentukan pilihan
secara cerdas.
Dan tentu tidak cerdas jika tanpa
dibarengi proses demikian. Apakah ada yang seperti itu? Tentu banyak. Terlepas dari
anomali-anomali semacam yang diangkat oleh Mas Anton (akrabnya), bahwa banyak yang
memalsukan umur, buruh migran kita adalah orang-orang dewasa yang seringkali
tidak memiliki cukup pengetahuan tentang apa yang akan dilakukan, situasi negara
tujuan, atau hal-hal krusial yang mereka butuhkan.
Ada dan-atau tiadanya pilihan lain. Bukankah sering kita mendengar
bahwa Indonesia tidak menyediakan cukup lapangan perkerjaan bagi masyarakatnya.
Atau bukankah sering pula kita mendengar tingginya jumlah pengangguran. Atau sekedar
keluh-kesah tetangga kita tentang anak-keponakan-cucu-saudara nya yang belum
juga mendapatkan pekerjaan. Menjadi buruh migran sering disandingkan dengan
alasan bahwa mereka tidak memiliki pilihan lain di negeri sendiri. Ingin menjadi
petani, lahan sudah habis terjual, menjadi buruh tani mungkin tak mampu
mencukupi. Sedangkan pekerjaan lain tak mampu dilakoni.
Atau apakah iya kesempatan itu
tidak ada? Seringkali ketika saya bertemu pemilik sebuah usaha, mereka
menceritakan betapa sulitnya mereka menemukan tenaga untuk membantu mereka. Ini
tentu bukan masalah ijazah. Sebab bahkan para pemegang ijazah sekolah tinggi
pun banyak yang menganggur.
***
Baik dari cerdas-tidak cerdasnya
pilihan menjadi buruh migran atau ada-tiadanya pilihan lain selain itu, kedua hal
ini saya rasa bermuara pada tingkat pendidikan masyarakat. Tentang pendidikan ini tentu sudah sering kita
dengar tiap kali bahasan terkait buruh migran digelar. Pemerintahan Jokowi
bahkan dikatakan sangat menaruh perhatian pada nasib buruh migran Indonesia. Balai-balai
latihan kerja digalakkan untuk mempersiapkan para buruh migran, dan buruh migran
non-prosedural dipangkas sebisa mungkin.
Tapi menurutku, jika ingin hal
baik menimpa buruh migran kita ke depannya. Bukan hanya pendidikan
pra-keberangkatan saja yang perlu dilakukan. Upaya preventif yang jauh lebih
kuat-lah yang dibutuhkan. Pendidikan yang jauh lebih mengakar-lah yang harus
dilakukan. Yakni pendidikan sejak dini. Pendidikan yang mampu membuka pikiran
anak-anak sedari dini bahwa pekerjaan (atau pun kesempatan) tak melulu harus
dicari tapi terkadang perlu diciptakan.
Dan, tentu apalah arti segudang
teori tanpa dijalani. Mengutip kata Sukarno, “Revolusi tidak datang hanya
karena kita berteriak-teriak Revolusi...revolusi...revolusi
sampai mati.” Marilah kita anggap kita tengah berjuang melakukan upaya
revolusi (mental?). Maka jangan hanya berteriak-teriak saja. Teori-teori saja. Tapi
juga butuh perbuatan. Atau tentu kita tidak mau pula tragedi-tragedi naas yang
menimpa buruh-buruh migran Indonesia berakhir dalam sebuah doa, sebagaimana
Sanggar Teater Samawa menutup pentas teatrikalnya semalam.
Apapun itu, pada akhir tulisan ini, perkenankan saya atas
nama pribadi mengucapkan selamat dan sukses atas pemutaran dan diskusi film
Menya(m)bung Nasib di Negeri Orang semalam. Mas Anton Susilo, melalui film ini telah
“berbuat”. Semoga perbuatannya mengakar, menjalar, dan tumbuh menjadi sesuatu yang hebat. Dan tentu saja
karena acara semalam juga merupakan rangkaian perayaan HUT Kabupaten Sumbawa ke-57,
saya yang lahir dan besar di Sumbawa ini juga mengucapkan Dirgahayu Kabupaten
Sumbawa tercinta. Dirgahayu. Dirgahayu. Hingga nanti-nanti.

0 comments:
Post a Comment