Lelaki Harimau, karya kedua dari Eka Kurniawan yang aku baca. Sebelumnya, beberapa tahun lalu, aku membaca Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas. Novel yang bagus meski bukan novel favoritku. Setelah membaca Seperti Dendam [...] aku berjodoh pula membaca tulisan-tulisan lain Eka, bukan buku, tapi berupa jurnal-jurnal yang ditulisnya.
Aku menyukai Eka yang seorang pembaca. Selera bacaannya aku sukai dan selalu aku jadikan referensi untuk mencari buku selanjutnya untuk dibeli. Tentu saja, fakta bahwa ia kebanyakan membaca karya dalam bahasa inggris cukup menyusahkan aku untuk mengetahui apakah buku tersebut juga tersedia terjemahan bahasa Indonesianya. Sedangkan Eka yang seorang penulis, aku sukai karena gaya bahasanya yang “lincah” dan “luwes”. Ia mengakui sendiri bahwa dirinya menyukai gaya bahasa pasar dan kesukaannya itu pun terang tergambar dari pemilihan kata dalam novel-novelnya.
Lelaki Harimau. Dari lima halaman awal membaca novel ini, aku sudah langsung membayangkan novel The Chronicle of A Death Foretold (Gabriel Garcia Marquez). Dan di bagian akhir novel dimana Anwar Sadat mengambil porsi lebih besar dalam cerita, aku tetiba ingat Esteban Trueba dalam The House of The Spirits (Isabel Allende). Well, itu pendapatku, tidak perlu membenarkan ataupun menyalahkan. Toh, Eka Kurniawan sendiri adalah penggemar Gabriel. Dan aku rasa tidak ada satu tulisanpun oleh siapapun yang tidak memiliki pengaruh dari penulis lain. (aku tidak pernah membaca ia membahas Isabel Allende. Tentang Anwar Sadat yang mirip Esteban mungkin hanya pendapat berlebihan). Meski begitu boleh dibilang aku lebih menyukai novel ini daripada Seperti Dendam [...].
Buku ini berisi kisah si Margio yang membunuh tetangganya sekaligus bapak kekasihnya, Anwar Sadat. Dalam novel ini Eka dengan mahir menggunakan alur maju-mundur yang perubahan settingnya begitu halus dan seolah-olah mengalir begitu saja dalam pikiran kita. Aku kadang-kadang harus membaca ulang halaman sebelumnya untuk mencaritahu sejak kapan aku dialihkan ke setting waktu atau tempat yang lain.
Ah, begitulah. Membaca Lelaki Harimau kemudian menjadi tempat kabur yang membawa jauh ke dalam dunia sureal dimana harimau dapat mendekam dalam tubuh manusia. Margio mengelak mengakui bahwa dirinyalah yang membunuh Anwar Sadat melainkan sang harimau.
Kita semua tahu kebinatangan dalam diri manusia akan muncul saat dia marah. Pembunuhan yang awalnya terdengar tragis karena disebabkan oleh remeh-temeh masalah cinta yang tak direstui, pelan-pelan dibawa Eka menuju sebuah pembenaran yang lebih masuk akal di akhir cerita. Dan kemudian kamu menjadi pembaca yang pengertian. Yang juga turut merestui pembunuhan. Biarlah, toh “ia mati saat bokongnya telah gila dan ada bisul di pikirannya." Mari baca!

0 comments:
Post a Comment