Hampir seluruh bukti dan
kesaksian mengarah pada “bersalah”nya si anak. Dan terbukti, saat pertama kali
hakim juri mengambil suara (di sebuah ruang tertutup), suara yang terkumpul
adalah 11 : 1 untuk “bersalah”. Hanya ada satu orang saja. Yang bukannya
betul-betul menganggap bahwa anak itu tidak bersalah. Tapi merasa ada banyak
keraguan-keraguan terkait apa yang dipaparkan dalam persidangan. Keraguan-keraguan
yang tidak layak diabaikan dan kemudian mengorbankan satu nyawa.
Satu suara yang berbeda sendiri
ini membuat beberapa juri lain menjadi berang. Ada 12 orang di dalam ruangan
terkunci dalam kondisi cuaca “gerah sebelum hujan” (aku tidak tahu kalian memahami
frase ini atau tidak). Kedua-belas orang yang berbeda latar belakang pekerjaan;
pembuat jam, pialang saham, pembuat iklan, arsitek, dan sebagainya, yang menjadi juri hanya karena panggilan melalui
surat. Karena satu suara “berbeda”, orang-orang ini teraduk-aduk emosi dan
logikanya untuk sebuah keputusan hidup dan mati.
Oke, sampai di situ saja spoilernya. Film hitam-putih ini, 98%-nya hanya berlatar
tempat di satu ruangan tertutup dimana mereka melakukan proses pengambilan keputusan
itu. Menakjubkan bagaimana dalam satu latar saja, emosi kita sebagai penonton
dapat ikut terbawa mengikuti plot cerita dan konflik yang kemudian terbangun. Sebelum menonton film ini, aku
membayangkan dua jam menonton film yang hanya bertempat di satu lokasi saja. Tanpa
narasi dan detail yang kuat atau unsur apapun lainnya yang dimiliki oleh film
ini, pastilah sangat membosankan.
Disutradarai oleh Sidney Lumet,
naskah oleh Reginald Rose. Oh, dan tentu saja tak kalah penting si kameramen
keren Boris Kaufman. Kerjasama ketiganya membuat film ini menjadi cemerlang
bahkan dengan ide drama sederhananya. Kuatnya narasi yang dibangun Rose dan
karakter yang meyakinkan serta sangat natural yang dimainkan oleh para aktor
membuat film ini menjadi asik yang tidak boleh dilewatkan para pecinta film.
Dan, sebagaimana setiap review
film yang aku tulis. Aku ingin mengingatkan bahwa aku bukan pengamat film,
murni subjektif pribadi tanpa embel-embel teori. Jika suka, mari download
filmnya, nonton, dan kita bahas sama-sama. :)
0 comments:
Post a Comment