Interstellar
merupakan film besutan Christoper Nolan yang juga merangkap sebagai penulis
bersama Jonathan Nolan. Dibintangi oleh Matthew McConaughey sebagai Cooper, Anne
Hathaway sebagai Amelia Brand, Michael Caine ( Prof. Brand) dan Jessica
Chastain (sebagai Murphy dewasa). Selain itu ada juga Mackenzie Foy sebagai
Murphy kecil. Film ini adalah film sci-fi yang heart-taking mengingat aku hampir tidak meninggalkan tempat dudukku
sepanjang film ini kuputar.
Jadi,
ceritanya, di masa yang akan datang, bumi sudah mulai sekarat (dalam artian yang
sebenarnya). Penyakit tanaman merajalela sehingga mengakibatkan krisis makanan
terjadi.
“We used to look up and wonder about our place in the stars,” Cooper
grumbles. “Now we just look down and worry about our place in the dirt.”
Di sinilah,
misi rahasia NASA dilakukan dalam rangka menemukan planet baru pengganti planet
bumi. Misi luar angkasa yang dipimpin oleh Cooper ini harus bertarung dengan
waktu. Relativitas waktu membuat setiap detik yang mereka lalui di luar angkasa
sana sangat berharga, apalagi misi pribadi Cooper adalah menyelamatkan
anak-anaknya dari bumi yang sudah tidak bisa ditolong lagi. Semakin banyak waktu yang terbuang, maka bisa jadi anak-anaknya justru telah menua dan mati.
Sepanjang
film yang berdurasi hampir 3 jam ini, perasaan kita turut kacau-balau
memikirkan mampu-tidaknya seorang ayah memenuhi misinya. Apalagi dengan konflik
yang terjadi dengan si anak yang merasa ditinggalkan. Belum lagi tentang pengkhianatan terencana oleh salah satu astronot pendahulu mereka. Beh. Kacau alam pikiran dibuatnya. Selain itu, hal mengagumkan lain adalah, terlepas dari bahwa ini kisah fiksi, rasa-rasanya tidak ada
logika yang tidak masuk akal di film ini (khas Nolan).
Nolan, sang
sutradara tampaknya adalah seorang ideolog tulen, visioner, dan pemimpi kelas
berat. Sebagai penonton, aku membayangkan bagaimana ide film ini ditemukan. Misalkan
saja Bang Nolan sedang guyon sama Nolan lainnya (kedua-duanya bekerja sama
sebagai penulis),
“Oi, Bro. Aku lagi
bored nih. Kita bikin film yuk?”
“Aku sih ayo-ayo
aja. Tapi film tentang apa Kangmas?”
“Kamu tahu
reltivitas waktu kan?”
“Tahu,
Kangmas.”
“Gravitasi?”
“Tahulah
dikit-dikit, Kang. Dulu sempat bolos sih
pas pelajaran itu.”
“Oh, jadi dulu
kamu suka bolos sekolah?”
PLAK! (dan
cerita berakhir dengan sebuah tamparan)
-_-
Apa sih....
0 comments:
Post a Comment