“Mungkin kau
lupa. Jatuhkan Tunggul Ametung seakan tidak karena tanganmu. Tangan orang lain
harus melakukannya. Dan orang itu harus dihukum di depan umum berdasarkan bukti
tak terbantahkan. Kau mengambil jarak secukupnya dari peristiwa itu.” (Dang
Hyang Lohgawe-Arok Dedes hal. 261)
Kemarin akhirnya aku selesaikan
juga membaca Arok Dedes, Pramoedya A. Toer. Ini merupakan penamatanku yang
kedua kali atas novel tersebut. Akhir April tahun ini akan menjadi tepat
sedasawarsa Mas Pram meninggalkan kita, paling tidak aku ingin mengingatnya
dengan membaca ulang novel ini.
Arok Dedes, pastinya terdengar
sangat familier di telinga siapa saja di Indonesia (paling tidak aku). Kisah
ini mengisi buku-buku sejarah masa SD-ku dulu. Kisah sejarah yang membikin kita
berpikir kok bisa perampok dan pembunuh macam Arok menjadi “orang besar”. Yang bisa
jadi juga telah menginspirasi beberapa anak kecil untuk tidak menjadi anak baik,
karena toh ancaman orang tua dan guru yang menyebut mereka akan jadi “orang
gagal” saat menjadi anak nakal terbukti telah terpatahkan oleh kisah sejarah
ratusan tahun silam. Ah, dan tentu kisah Ken Arok itu juga, saya rasa, adalah
pengilham terbesar akan banyaknya kisah-kisah penuh ajisakti mandraguna di
tayangan-tayangan Ind**iar dan MN**V. #halah
Balik ke karya Mas Pram. Novel
ini memang berkisah tentang orang yang sama dengan yang kita cerna di buku-buku
sejarah itu, tapi dengan cerita yang sama sekali berbeda. Tidak ada
mistis-mistis kesaktian keris Empu Gandring. Tak ada kesaktian Ken Arok yang
dikarenakan dia adalah keturunan dewa. Buku ini menyajikan kisah Ken Arok
serealistis mungkin dan melenyapkan segala unsur mistis.
Ken Arok mencapai kedudukan dan
kebesarannya menggunakan taktik-taktik politik. Berbekal ilmu pengetahuan dari
dua orang gurunya, Tantripala dan Dang Hyang Lohgawe, ia yang adalah seorang
tani (sudra) bisa naik tingkat menjadi seorang brahmana (kaum yang dianggap sebagai
pemilik ilmu). Dengan pengetahuannya ia mulai mempertanyakan apa yang telah
dilakukan kaum Brahmana selama ini untuk melawan setelah terus-menerus ditindas oleh Tunggul
Ametung.
“Apa guna pengetahuan tanpa pendapat?”
Demikian diutarakan Arok pada
Dang Hyang Lohgawe. Maka ia yang telah memenangkan hati gurunya pun mendapatkan
restu untuk menjatuhkan Tunggul Ametung yang saat itu berkuasa. Dengan
demikian, sepanjang buku ini, kita akan ikut masuk dalam pikiran Arok dan ikut
serta pula menyusun taktik kudeta.
Buku tentang politik yang dituliskan
dengan asik. Bikin kita sedikit mengerti mengapa karya-karya Pram ingin sekali
dimusnahkan oleh pihak yang berkuasa saat itu. Diselesaikan pada 1976, buku ini
menurutku secara tidak langsung mengajarkan dan mengajak untuk melakukan kudeta.
Beuh! Seakan-akan bukan Era Soeharto saja.
Seperti pada beberapa review
novel sebelumnya, selain ingin menceritakan sedikit tentang isi buku, aku juga
ingin membagi kesukaanku akan tokoh favorit. Pada novel ini, aku jatuh cinta
pada tokoh.... Arok. Hahaha. Mainstream ya. Beberapa novel sebelumnya aku selalu
jatuh hati pada tokoh-tokoh minor. Tapi di novel ini aku tidak bisa tidak
menyukai kecerdikan Arok. Maaf, aku hanya manusia biasa yang terlalu mudah
jatuh cinta.
Meskipun demikian, aku tau para
penggemar wanita tangguh pasti banyak yang mengidolakan sang Pramesywari alias
Ken Dedes yang cantik jelita, lagi cerdas, lagi tabah itu. Tanpa dia, mana lah
ada kudeta itu terjadi.
Umang si tangguh yang tak cantik
rupa tapi kawan Arok paling mula-mula. Oti si budak. Rimang si mantan selir.
Atau bisa jadi juga menyukai si pendamping setia
Arok, Tanca. Ya Tuhan. Tanpa kesetiaan, manalah ada sebuah perlawanan.
Dan, ah, aku bisa memenuhi
tulisan ini dengan tokoh-tokoh dalam novel itu. Tapi tidak, tidak. Tanganku mulai
lelah. Catatan ini biar menjadi catatan singkat seperlunya saja tentang buku
ini. Aku harap kamu sekalian turut membaca dan menyambung cerita tentang
kesukaanmu pada tokoh yang mana. Mundrayana si mata satu, Dang Hyang Lohgawe
sang guru yang berkelebihan dan berkekurangan, Tantripala si Budha. Hhh, cukup,
cukup. Kadang-kadang, tanganku tidak mau patuh pada pikiranku. Mungkin tanganku
perlahan sedang menyusun sebuah kudeta.
After all, mari baca :)
0 comments:
Post a Comment