Monday, 10 August 2015

[Book] The House of The Spirits


Jika pada the Known World aku menyukai Alice Night, pada novel karangan Isabel Allende ini aku menyukai Transito Soto. Penyebabnya? Entahlah. Novel ini penuh dengan orang-orang tidak normal seperti yang selalu dikatakan Esteban Trueba. Dan bagiku Transito Soto-lah satu-satunya orang yang "normal". Dia seorang wanita yang tahu apa yang diinginkannya, mencintai profesinya dan membuat jalan sendiri menuju apa yang dia mau.

Partai Kanan boleh memimpin, Partai Kiri boleh menang, dan militer boleh berkuasa, namun dari kesemuanya, Transito Soto tetap muncul sebagai pemenang karena dapat melalui rintangan silih-bergantinya pemegang kekuasaan di negerinya dan berhasil tetap mempertahankan rumah bordilnya sebagai rumah bordil papan atas.

Oh, tapi Transito Soto bukanlah tokoh utama novel ini. Sebagaimana Alice Night, Transito juga adalah tokoh minor. Novel ini pada intinya bercerita tentang kisah dalam satu keluarga, yakni Keluarga Trueba. Tiga Generasi wanita pada keluarga ini menjadi saksi bagaimana suatu negeri berubah seiring berubahnya pemegang kekuasaan. Novel yang pada awalnya kuduga penuh dengan hal-hal mistis penuh kisah percintaan ini pada akhirnya bergerak menjadi novel yang menceritakan kisah suatu bangsa, tentang politik dan bagaimana dendam masa lalu turut membuat malapetaka pada keluarga itu seiring dengan kesempatan-kesempatan yang dihadirkan oleh kediktatoran.

Aku menyukai novel ini dan meskipun cukup tebal, tapi aku menyelesaikannya dengan cukup cepat. Aku menyukai bagaimana novel ini dimulai, dan lebih suka lagi melihat bagaimana novel ini diakhiri. Mari baca :D

Monday, 27 July 2015

[Book] The Known World: Tentang Dunia yang Kaukenal



Membaca buku karangan Edward P Jones ini seperti tersedot masuk dalam putaran waktu yang membawa kita kesana-kemari dan tidak kuasa untuk menolak. Edward menggunakan alur maju-mundur dan menceritakan kisah banyak tokoh di dalamnya. Meski demikian, seluruh kisah sepertinya berpusat pada satu nama belakang, Townsend. Tentang Henry Townsend, Augustus Townsend, Caldonia Townsend, dan para budak perkebunan Townsend, sedangkan kisah-kisah dari para orang lain masih tetap berkutat tentang masalah perbudakan, dan tentu saja tidak jauh-jauh dari lingkungan keluarga Townsend.

Buku ini direkomendasikan (dan dipinjamkan :p) oleh seorang teman yang mengatakan bahwa novel ini adalah salah satu novel terkuat yang dibacanya TAHUN LALU. Oke, garis bawahi kata “tahun lalu”. Itu artinya aku terlambat satu tahun membaca buku itu. Tapi memang iya buku ini bagus. Meskipun harus aku baca dengan lambat dan baru kuhabiskan selama satu bulan -_- .

Sunday, 19 July 2015

Gili Keramat, Liburan Pas Buat Lebaran

Lebaran adalah waktu spesial untuk kita bersenang-senang. Utamanya bersama keluarga yang pada hari-hari lain biasanya penuh kesibukan hingga mungkin enggan untuk meluangkan waktu rekreasi bersama. Nah, lebaran kali ini aku mengunjungi Gili Keramat bersama keluarga besarku. 

Lokasi Gili Keramat tepatnya di wilayah Utan, Sumbawa Besar. Pada papan penunjuk arah menuju Labu Sangur, langsung belok kanan. Kita dapat menyeberang melalui boat yang ada di Labu Pade (nama pantai di sekitar situ) atau kita dapat jalan terus menuju perkampungan nelayan dan berangkat menggunakan boat yang bisa kita sewa dari para nelayan di sana. Kali ini aku berangkat dari kampong nelayannya. Dari Sumbawa Besar ke Utan memakan waktu sekitar  1 jam dan di atas boat 45 menit.

Jalan-jalan dengan keluarga besar punya kenikmatan dan keseramannya tersendiri. Seramnya kenapa? Karena tidak semua orang-orang (maaf) tua itu terbiasa naik boat. Dan orang-orang (maaf lagi) tua di keluargaku sayangnya termasuk dalam orang-orang yang tidak terbiasa di atas boat. Maka jadilah perjalanan kami yang menggunakan tiga boat itu penuh teriakan dan tangisan.

Setelah 45 menit dipenuhi teriakan dan tangisan, kamu tentunya tidak akan menyesal mendapati pemandangan di sana. sudah siap-siap nyebur untuk mandi sebenarnya tapi u know lah, No picture, hoax, they said. Jadinya sempatkan diri ambil beberapa gambar dulu sebelum akhirnya terjun dan berpuas-puas diri di dalam air.







Nah, ok.. waktunya buat nyebur deh. Tolong jangan bilang kalau kamu tidak ingin.


Wednesday, 17 June 2015

[Book] Vickynisasi ala Hazel Grace Lancaster



          Vicky Prasetyo. Ia terkenal dengan gaya bicaranya yang gemar menggunakan istilah-istilah “tinggi”. Hingga akhirnya tercipta terminologi baru, yakni “Vickynisasi”. Artinya, mem-Vicky-kan segala kata-kata yang harusnya biasa menjadi istilah-istilah rumit nan “tinggi”. 

          Saya dapat dihitung sebagai salah satu penikmat hiburan (konyol) yang dibuat berdasarkan semua tingkah laku ataupun perkataan Vicky Prasetyo. Yah, itu cukup menghibur kan? Dan kemudian aku membaca The Fault in Our Stars (John Green)  yang membawaku berkenalan dengan Hazel Graze Lancaster, sang tokoh utama dalam novel tersebut. 


          Gaya bicaranya mengingatkan aku pada si Vicky, tapi dengan cara yang cerdas, tentu saja. Hazel Grace, gadis 16 tahun yang mengidap penyakit kanker itu hampir

Thursday, 11 June 2015

Mari Baca

gambar: yustiemada.blogspot.com
Beberapa hari ini aku mengisi waktuku dengan membaca karya sastra, ataupun hal-hal yang berkaitan dengannya. Aku sejak dulu memang gemar membaca tapi bukan pembaca apa-saja. Pada masa-masa remaja aku menyukai komik, kemudian agak berpindah ke novel meskipun belum meninggalkan sepenuhnya bacaan komik kesukaanku. Semasa SMA, aku lebih banyak memeriksa lemari buku kawanku daripada membeli sendiri buku-buku itu. Mungkin karena pengaruh ibuku yang tidak menyukai bila uang belanjaku digunakan untuk membeli buku. Atau aku bisa bilang –dengan tetap mempertahankan sikapku sejak dulu- bahwa ini semua adalah kesalahan hidupku yang malang karena tinggal di kota kecil tanpa satupun toko buku (yang layak- hanya ada satu toko buku yang sebagian besar koleksinya adalah buku pelajaran sekolah dan buku-buku agama). 

Belajar Periode dalam Sejarah Sastra Dunia



Tulisan ini aku buat dengan tujuan yang sama seperti tulisan-tulisanku yang lainnya. Sebagai pengingat. Ingatan jangka panjangku sangat buruk. Dan menulis, kata beberapa orang adalah latihan yang baik. 

Sebagian besar dari isi tulisanku kali ini adalah terjemahan dari laman http://klasikfanda.blogspot.com pada bagian Literary Movement Reading Chalenge 2015. Aku mendapatkan penjelasan mengenai periode-periode sejarah sastra dunia pada laman tersebut dan ingin sekali merekamnya dengan baik sebagai pengetahuan yang baru (bagiku).

Jadi begini, aku sering sekali mendengar bahwa penulis “ini” merupakan salah satu penulis Modernist, misalnya, atau penulis “itu” adalah bagian era Victorian. Tapi aku sama sekali tidak tahu mengapa mereka disebut demikian. Apa saja karakteristik dari masing-masing gerakan tersebut? Dan akhirnya aku menemukan jawabannya secara utuh pada laman tersebut. 

Aku akan menuliskannya kembali di sini dalam versi Bahasa Indonesia (maafkan kelemahanku dalam upaya penerjemahan, ok?).

Post-Modernisme (1965-sekarang)

             Sastra Pos-Modern ditandai dengan ketergantungan karya mereka pada teknik-teknik seperti fragmentasi, paradoks, dan narasi yang dapat dipertanyakan. Karya pos-modern dipandang sebagai reaksi terhadap pemikiran Enlightenment dan Modernis dalam hal pendekatan mereka terhadap karya sastra. Sebuah karya sastra posmodern cenderung tidak mengakhiri kisah mereka dengan kesimpulan-kesimpulan yang mengikat, melainkan sering sekali memparodikannya. Karakteristik lain dari sastra posmodern adalah mempertanyakan perbedaan antara budaya tinggi dan rendah dengan mencampur-adukkan keduanya, sebuah kombinasi genre dan jenis yang sebelumnya dianggap tidak cocok untuk sebuah karya sastra.

Beberapa penulis Posmodern adalah:

Toni Morrison
Umberto Eco
Margaret Atwood
Kurt Vonnegut
Joseph Heller
Vladimir Nabokov
Italo Calvino
Salman Rushdie