Tuesday, 26 April 2016

Tentang Label "Kutu" pada Pecinta Buku

Belakangan ini kepalaku berisi pertanyaan, mengapa orang-orang yang suka baca disebut kutu buku? Para pecinta buku disamakan dengan “kutu”, ya ampun, bukankah sangat menjijikkan. Bahkan dalam bahasa inggris, para pecinta buku ini harus pasrah dilabeli sebagai “cacing”, bookworm. Padahal aku ndak pernah tuh nemu ada pecinta buku atau pembaca kelas berat yang saking sukanya baca buku terus jalannya jadi melata begitu macam cacing.

Maksudku, ini sama saja dengan pelabelan buruk. Melabeli para pecinta baca dengan konotasi hewan-hewan yang bikin banyak orang geli itu sama saja dengan menanamkan pikiran ke orang-orang bahwa membaca buku itu ndak keren. Ndak masuk akal kan? Nyatanya aku banyak lho bersahabat dengan para maniak buku yang kece-nya sudah tingkat badai. Modish, stylish, amis. Eh, maksudku amis. Eh, maksudku, maksudku, manis. 

Orang yang waras saja, jika semua orang disekitarnya sepakat untuk selalu mengatakan bahwa dia gila, maka si waras itu akan perlahan-lahan mulai meragukan dirinya sendiri. Apa benar ia waras, ataukah seperti yang dikatakan orang-orang, bahwa sebenarnya ia gila.

Nah, pelabelan dengan istilah ndak keren itu, menurutku bisa sangat berbahaya bagi kampanye membaca di Indonesia. Anak-anak keren yang mendapati dirinya suka membaca bisa mulai meragukan dirinya sendiri. Apakah benar ia keren ataukah memang ia tidak lebih dari hanya sekedar kutu yang menyukai ruang-ruang sepi, asik sendiri, dan mulai membaca. Kemudian sebagaimana teori labelling, ia mulai membuat dirinya menjadi tidak keren sebagaimana yang dilabelkan pada dirinya itu. Ini tipe yang lebih kuat memilih kegemarannya pada baca. 

Lalu bagaimana dengan mereka yang belum gemar membaca? Mendengar pelabelan semacam itu akan membuat mereka mengurungkan niatnya untuk membaca terlalu banyak. Mereka bahkan menjadi penyumbang terbesar anak-anak yang suka baca enggan menunjukkan ketertarikannya membaca di depan umum. Sebab tipe-tipe yang lebih gemar mempertahankan ke-keren-an versi mereka ini akan mulai mengolok-olok mereka sebagai kutu.

So, saran saya sih simpel saja. Istilah kutu buku itu harus segera dilenyapkan dari muka bumi ini, kisanak dan nyisanak sekalian. Kita ciptakan istilah-istilah baru yang mampu mengangkat harkat dan derajat para pecinta buku kelas berat. Usulan dari saya sih misalnya ganti saja dengan  kembang buku, peselancar buku, penyelam aksara.

Nah, nah, bahkan ideku itu terdengar sangat aneh. Ini menunjukkan pelabelan tersebut sudah sampai pada tahap akut di pikiranku. Atau mungkin saja, istilah paling merdu bagi para pecinta buku ya memang kutu buku itu tadi. Ya sudahlah. Pasrah saja. Baca ya baca saja. Gausah pikir macam-macam, pengen keren segala. -_-



Monday, 25 April 2016

[NOVEL] Arok Dedes : Kisah Kudeta Paling Mula-Mula





“Mungkin kau lupa. Jatuhkan Tunggul Ametung seakan tidak karena tanganmu. Tangan orang lain harus melakukannya. Dan orang itu harus dihukum di depan umum berdasarkan bukti tak terbantahkan. Kau mengambil jarak secukupnya dari peristiwa itu.” (Dang Hyang Lohgawe-Arok Dedes hal. 261)

Kemarin akhirnya aku selesaikan juga membaca Arok Dedes, Pramoedya A. Toer. Ini merupakan penamatanku yang kedua kali atas novel tersebut. Akhir April tahun ini akan menjadi tepat sedasawarsa Mas Pram meninggalkan kita, paling tidak aku ingin mengingatnya dengan membaca ulang novel ini. 

Arok Dedes, pastinya terdengar sangat familier di telinga siapa saja di Indonesia (paling tidak aku). Kisah ini mengisi buku-buku sejarah masa SD-ku dulu. Kisah sejarah yang membikin kita berpikir kok bisa perampok dan pembunuh macam Arok menjadi “orang besar”. Yang bisa jadi juga telah menginspirasi beberapa anak kecil untuk tidak menjadi anak baik, karena toh ancaman orang tua dan guru yang menyebut mereka akan jadi “orang gagal” saat menjadi anak nakal terbukti telah terpatahkan oleh kisah sejarah ratusan tahun silam. Ah, dan tentu kisah Ken Arok itu juga, saya rasa, adalah pengilham terbesar akan banyaknya kisah-kisah penuh ajisakti mandraguna di tayangan-tayangan Ind**iar dan MN**V. #halah

Balik ke karya Mas Pram. Novel ini memang berkisah tentang orang yang sama dengan yang kita cerna di buku-buku sejarah itu, tapi dengan cerita yang sama sekali berbeda. Tidak ada mistis-mistis kesaktian keris Empu Gandring. Tak ada kesaktian Ken Arok yang dikarenakan dia adalah keturunan dewa. Buku ini menyajikan kisah Ken Arok serealistis mungkin dan melenyapkan segala unsur mistis. 

Ken Arok mencapai kedudukan dan kebesarannya menggunakan taktik-taktik politik. Berbekal ilmu pengetahuan dari dua orang gurunya, Tantripala dan Dang Hyang Lohgawe, ia yang adalah seorang tani (sudra) bisa naik tingkat menjadi seorang brahmana (kaum yang dianggap sebagai pemilik ilmu). Dengan pengetahuannya ia mulai mempertanyakan apa yang telah dilakukan kaum Brahmana selama ini untuk melawan setelah terus-menerus ditindas oleh Tunggul Ametung.

“Apa guna pengetahuan tanpa pendapat?”

Demikian diutarakan Arok pada Dang Hyang Lohgawe. Maka ia yang telah memenangkan hati gurunya pun mendapatkan restu untuk menjatuhkan Tunggul Ametung yang saat itu berkuasa. Dengan demikian, sepanjang buku ini, kita akan ikut masuk dalam pikiran Arok dan ikut serta pula menyusun taktik kudeta. 

Buku tentang politik yang dituliskan dengan asik. Bikin kita sedikit mengerti mengapa karya-karya Pram ingin sekali dimusnahkan oleh pihak yang berkuasa saat itu. Diselesaikan pada 1976, buku ini menurutku secara tidak langsung mengajarkan dan mengajak untuk melakukan kudeta. Beuh! Seakan-akan bukan Era Soeharto saja. 

Seperti pada beberapa review novel sebelumnya, selain ingin menceritakan sedikit tentang isi buku, aku juga ingin membagi kesukaanku akan tokoh favorit. Pada novel ini, aku jatuh cinta pada tokoh.... Arok. Hahaha. Mainstream ya. Beberapa novel sebelumnya aku selalu jatuh hati pada tokoh-tokoh minor. Tapi di novel ini aku tidak bisa tidak menyukai kecerdikan Arok. Maaf, aku hanya manusia biasa yang terlalu mudah jatuh cinta. 

Meskipun demikian, aku tau para penggemar wanita tangguh pasti banyak yang mengidolakan sang Pramesywari alias Ken Dedes yang cantik jelita, lagi cerdas, lagi tabah itu. Tanpa dia, mana lah ada kudeta itu terjadi. 

Umang si tangguh yang tak cantik rupa tapi kawan Arok paling mula-mula. Oti si budak. Rimang si mantan selir. 

Atau bisa jadi juga menyukai si pendamping setia Arok, Tanca. Ya Tuhan. Tanpa kesetiaan, manalah ada sebuah perlawanan. 

Dan, ah, aku bisa memenuhi tulisan ini dengan tokoh-tokoh dalam novel itu. Tapi tidak, tidak. Tanganku mulai lelah. Catatan ini biar menjadi catatan singkat seperlunya saja tentang buku ini. Aku harap kamu sekalian turut membaca dan menyambung cerita tentang kesukaanmu pada tokoh yang mana. Mundrayana si mata satu, Dang Hyang Lohgawe sang guru yang berkelebihan dan berkekurangan, Tantripala si Budha. Hhh, cukup, cukup. Kadang-kadang, tanganku tidak mau patuh pada pikiranku. Mungkin tanganku perlahan sedang menyusun sebuah kudeta. 

After all, mari baca :)



Thursday, 24 March 2016

[MOVIE] Cloud Atlas: Berani Keluar dari Rasa Nyamanmu?

       Sudah berapa lama sejak terakhir kali kalian menonton film yang membingungkan? Kalau sudah lama, sebaiknya kalian mulai lagi menonton jenis film semacam itu dengan film ini. Cloud Atlas. Saat seseorang merekomendasikan film ini saja, dia sampai merasa perlu berkata, “Saya baru paham film ini setelah menonton yang kesekian kalinya.” Film yang memiliki enam setting waktu berbeda ini menurutku sangat inspiratif tapi dengan cara yang membingungkan.

           Mari kita urai sedikit tentang keenam setting di film ini. Setting pertama adalah Pacific Selatan pada 1850, tentang seorang pengacara yang dikhianati orang kepercayaannya dan justru diselamatkan oleh seorang budak yang baru ia kenal. Setting kedua bertempat di Scotlandia pertengahan 1930an, tentang seorang musisi gay muda yang jenius dan mulai mencari pengakuan dengan bekerja pada seorang musisi ternama saat itu. Yang ketiga, 2012, bercerita tentang seorang pengusaha penerbitan yang tiba-tiba menjadi kaya dengan menjual buku memoar seorang penjahat Irlandia tanpa royalti yang layak. Untuk menyelamatkan dia yang dikejar-kejar oleh penjahat tersebut (demi royalti yang layak), sang adik memasukkannya ke sebuah tempat yang awal mulanya ia anggap hotel namun ternyata adalah panti jompo dengan pengamanan yang sangat ketat.

          Set keempat di tahun 1973 dimana ceritanya berpusat pada seorang wartawan investigatif (Halle Berry) yang berusaha mengetahui konspirasi konglomerat yang mengancam dunia. Setting kelima yakni di masa depan, tahun 2146, berlokasi di sebuah kota bernama Brave New Seoul. Masa dimana manusia banyak membuat kloning-kloning hanya untuk digunakan sebagai pelayan/pekerja. Sedangkan setting yang terakhir adalah masa post-apokaliptus di masa depan yang bercerita tentang seorang pria bernama Zachary (Tom Hanks) yang berada di tengah-tengah kelompok yang beradab bahkan ketika mereka dikelilingi oleh para barbar yang kanibal.

        Cloud Atlas adalah film adaptasi dari novel karangan David Mitchell yang kemudian disutradarai oleh Tom Twyker dan The Wachowski. Dengan enam latar waktu yang berbeda-beda ini, kamu bayangkan saja pikiranmu dibawa berjalan-jalan menggunakan rolller coaster waktu. Pada awalnya aku menebak bahwa masing-masing setting di film ini bukan merupakan setting waktu yang berbeda melainkan dunia yang berbeda. Semacam dunia paralel seperti pada film The One yang dibintangi Jet Li.

          Tapi kemudian hipotesisku ini terpatahkan oleh adanya koneksi linier dalam setting waktu yang berbeda seperti antara setting waktu si musisi gay (1930an) dengan setting waktu si wartawan (Halle Berry), 1973. Pada kedua setting waktu berbeda tersebut, kekasih si musisi gay harus mati  di masa depan yang membuat si wartawan menggali lebih jauh tentang kehidupan pribadinya yang kemudian membawanya bertemu dengan musik yang dikomposisi oleh si musisi gay tersebut. 

         Well, di pertengahan film, aku mulai berhenti menebak-nebak. Buat apa memperumit diri sendiri bukan? Aku nikmati saja filmnya. Menikmati bagaimana hampir di setiap setting berbeda tersebut, kamu akan menemukan orang-orang yang berjuang untuk “keluar” dan melawan dunia sekitarnya. Si musisi gay yang berhasil lepas dari musisi tua yang memanfaatkan talentanya. Si manusia kloning yang melakukan perlawanan terhadap manusia yang menganggap mereka tak lebih dari sekedar objek kumpulan protein semata. Si manusia era post-apokaliptus yang bertempur melawan takhayul dan pikiran pribadinya. Si pengacara yang keluar dari zona nyaman dan memutuskan menjadi pembela kalangan afro-america. Si wartawan yang melawan konspirasi politik. Atau si penerbit tua yang lolos dari cengkeraman si adik dan panti jompo yang dikelolanya. 

         Dan di akhir film ini, sebingung apapun kamu telah dibikinnya. Kamu akan mulai lagi bertanya. Hari ini, kenyamanan macam apa yang telah kamu lawan?
         Mari nonton.

Friday, 4 March 2016

[MOVIE] Interstellar: Dimana Tempatmu Diantara Bintang-Bintang?

             Direkomendasikan oleh seseorang, aku memilih menonton film ini lebih dulu daripada film yang paling disarankannya. Entahlah, rasanya sudah lama tidak menonton film seperti ini. Maklum, aku sibuk (buahahaha).

           Interstellar merupakan film besutan Christoper Nolan yang juga merangkap sebagai penulis bersama Jonathan Nolan. Dibintangi oleh  Matthew McConaughey sebagai Cooper,  Anne Hathaway  sebagai Amelia Brand, Michael Caine ( Prof. Brand) dan Jessica Chastain (sebagai Murphy dewasa). Selain itu ada juga  Mackenzie Foy sebagai Murphy kecil. Film ini adalah film sci-fi yang heart-taking mengingat aku hampir tidak meninggalkan tempat dudukku sepanjang film ini kuputar.

         Jadi, ceritanya, di masa yang akan datang, bumi sudah mulai sekarat (dalam artian yang sebenarnya). Penyakit tanaman merajalela sehingga mengakibatkan krisis makanan terjadi. 

“We used to look up and wonder about our place in the stars,” Cooper grumbles. “Now we just look down and worry about our place in the dirt.”

 Di sinilah, misi rahasia NASA dilakukan dalam rangka menemukan planet baru pengganti planet bumi. Misi luar angkasa yang dipimpin oleh Cooper ini harus bertarung dengan waktu. Relativitas waktu membuat setiap detik yang mereka lalui di luar angkasa sana sangat berharga, apalagi misi pribadi Cooper adalah menyelamatkan anak-anaknya dari bumi yang sudah tidak bisa ditolong lagi. Semakin banyak waktu yang terbuang, maka bisa jadi anak-anaknya justru telah menua dan mati.

           Sepanjang film yang berdurasi hampir 3 jam ini, perasaan kita turut kacau-balau memikirkan mampu-tidaknya seorang ayah memenuhi misinya. Apalagi dengan konflik yang terjadi dengan si anak yang merasa ditinggalkan. Belum lagi tentang pengkhianatan terencana oleh salah satu astronot pendahulu mereka. Beh. Kacau alam pikiran dibuatnya. Selain itu, hal mengagumkan lain adalah, terlepas dari bahwa ini kisah fiksi, rasa-rasanya tidak ada logika yang tidak masuk akal di film ini (khas Nolan).

Nolan, sang sutradara tampaknya adalah seorang ideolog tulen, visioner, dan pemimpi kelas berat. Sebagai penonton, aku membayangkan bagaimana ide film ini ditemukan. Misalkan saja Bang Nolan sedang guyon sama Nolan lainnya (kedua-duanya bekerja sama sebagai penulis),

“Oi, Bro. Aku lagi bored nih. Kita bikin film yuk?”
“Aku sih ayo-ayo aja. Tapi film tentang apa Kangmas?”
“Kamu tahu reltivitas waktu kan?”
“Tahu, Kangmas.”
“Gravitasi?”
“Tahulah dikit-dikit, Kang.  Dulu sempat bolos sih pas pelajaran itu.”
“Oh, jadi dulu kamu suka bolos sekolah?”
PLAK! (dan cerita berakhir dengan sebuah tamparan)
-_-
Apa sih....

           Haish.. jadi intinya, film ini membuat aku menangis. Tiga kali. Tentu saja itu bukan indikator bagus-tidaknya sebuah film. Aku cuma pengen bilang. Aku tidak mau menangis sendirian, juga tidak ingin hanya aku yang mengagumi si Murphy, atau sendiri merasa istimewa diperlihatkan imajinasi sang Sutradara dan Penulis tentang Lubang Hitam. So, ayo download filmnya, tonton, dan kita bahas sama-sama.

Thursday, 3 March 2016

[Movie] 12 Angry Men: Ketika Nyawa Seseorang di Tanganmu

            Film klasik produksi tahun 1957. Film ini menceritakan 12 orang hakim juri yang tengah berdiskusi dalam rangka mengambil keputusan terkait bersalah-tidaknya seorang anak 18 tahun atas pembunuhan ayahnya. Pembunuhan tingkat pertama. Saat itu, hukumannya adalah hukuman mati. Maka, jika kedua-belas hakim juri memutuskan “bersalah”, si anak akan berakhir mati di kursi listrik.

        Hampir seluruh bukti dan kesaksian mengarah pada “bersalah”nya si anak. Dan terbukti, saat pertama kali hakim juri mengambil suara (di sebuah ruang tertutup), suara yang terkumpul adalah 11 : 1 untuk “bersalah”. Hanya ada satu orang saja. Yang bukannya betul-betul menganggap bahwa anak itu tidak bersalah. Tapi merasa ada banyak keraguan-keraguan terkait apa yang dipaparkan dalam persidangan. Keraguan-keraguan yang tidak layak diabaikan dan kemudian mengorbankan satu nyawa.

         Satu suara yang berbeda sendiri ini membuat beberapa juri lain menjadi berang. Ada 12 orang di dalam ruangan terkunci dalam kondisi cuaca “gerah sebelum hujan” (aku tidak tahu kalian memahami frase ini atau tidak). Kedua-belas orang yang berbeda latar belakang pekerjaan; pembuat jam, pialang saham, pembuat iklan, arsitek, dan sebagainya, yang  menjadi juri hanya karena panggilan melalui surat. Karena satu suara “berbeda”, orang-orang ini teraduk-aduk emosi dan logikanya untuk sebuah keputusan hidup dan mati.
         
       Oke, sampai di situ saja spoilernya. Film hitam-putih ini, 98%-nya hanya berlatar tempat di satu ruangan tertutup dimana mereka melakukan proses pengambilan keputusan itu. Menakjubkan bagaimana dalam satu latar saja, emosi kita sebagai penonton dapat ikut terbawa mengikuti plot cerita dan konflik yang kemudian terbangun. Sebelum menonton film ini, aku membayangkan dua jam menonton film yang hanya bertempat di satu lokasi saja. Tanpa narasi dan detail yang kuat atau unsur apapun lainnya yang dimiliki oleh film ini, pastilah sangat membosankan. 

        Disutradarai oleh Sidney Lumet, naskah oleh Reginald Rose. Oh, dan tentu saja tak kalah penting si kameramen keren Boris Kaufman. Kerjasama ketiganya membuat film ini menjadi cemerlang bahkan dengan ide drama sederhananya. Kuatnya narasi yang dibangun Rose dan karakter yang meyakinkan serta sangat natural yang dimainkan oleh para aktor membuat film ini menjadi asik yang tidak boleh dilewatkan para pecinta film.

         Dan, sebagaimana setiap review film yang aku tulis. Aku ingin mengingatkan bahwa aku bukan pengamat film, murni subjektif pribadi tanpa embel-embel teori. Jika suka, mari download filmnya, nonton, dan kita bahas sama-sama. :)

Wednesday, 27 January 2016

[Novel] Lelaki Harimau: Biarlah Ia Mati

Lelaki Harimau, karya kedua dari Eka Kurniawan yang aku baca. Sebelumnya, beberapa tahun lalu, aku membaca Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas. Novel yang bagus meski bukan novel favoritku. Setelah membaca Seperti Dendam [...] aku berjodoh pula membaca tulisan-tulisan lain Eka, bukan buku, tapi berupa jurnal-jurnal yang ditulisnya. 

Aku menyukai Eka yang seorang pembaca. Selera bacaannya aku sukai dan selalu aku jadikan referensi untuk mencari buku selanjutnya untuk dibeli. Tentu saja, fakta bahwa ia kebanyakan membaca karya dalam bahasa inggris cukup menyusahkan aku untuk mengetahui apakah buku tersebut juga tersedia terjemahan bahasa Indonesianya. Sedangkan Eka yang seorang penulis, aku sukai karena gaya bahasanya yang “lincah” dan “luwes”. Ia mengakui sendiri bahwa dirinya menyukai gaya bahasa pasar dan kesukaannya itu pun terang tergambar dari pemilihan kata dalam novel-novelnya.

Lelaki Harimau. Dari lima halaman awal membaca novel ini, aku sudah langsung membayangkan novel The Chronicle of A Death Foretold (Gabriel Garcia Marquez). Dan di bagian akhir novel dimana Anwar Sadat mengambil porsi lebih besar dalam cerita, aku tetiba ingat Esteban Trueba dalam The House of The Spirits (Isabel Allende). Well, itu pendapatku, tidak perlu membenarkan ataupun menyalahkan. Toh, Eka Kurniawan sendiri adalah penggemar Gabriel. Dan aku rasa tidak ada satu tulisanpun oleh siapapun yang tidak memiliki pengaruh dari penulis lain. (aku tidak pernah membaca ia membahas Isabel Allende. Tentang Anwar Sadat yang mirip Esteban mungkin hanya pendapat berlebihan). Meski begitu boleh dibilang aku lebih menyukai novel ini daripada Seperti Dendam [...].

Buku ini berisi kisah si Margio yang membunuh tetangganya sekaligus bapak kekasihnya, Anwar Sadat. Dalam novel ini Eka dengan mahir menggunakan alur maju-mundur yang perubahan settingnya begitu halus dan seolah-olah mengalir begitu saja dalam pikiran kita. Aku kadang-kadang harus membaca ulang halaman sebelumnya untuk mencaritahu sejak kapan aku dialihkan ke setting waktu atau tempat yang lain. 

Ah, begitulah. Membaca Lelaki Harimau kemudian menjadi tempat kabur yang membawa jauh ke dalam dunia sureal dimana harimau dapat mendekam dalam tubuh manusia. Margio mengelak mengakui bahwa dirinyalah yang membunuh Anwar Sadat melainkan sang harimau. 

Kita semua tahu kebinatangan dalam diri manusia akan muncul saat dia marah. Pembunuhan yang awalnya terdengar tragis karena disebabkan oleh remeh-temeh masalah cinta yang tak direstui, pelan-pelan dibawa Eka menuju sebuah pembenaran yang lebih masuk akal di akhir cerita. Dan kemudian kamu menjadi pembaca yang pengertian. Yang juga turut merestui pembunuhan. Biarlah, toh “ia mati saat bokongnya telah gila dan ada bisul di pikirannya." Mari baca!

Friday, 22 January 2016

Masalah Buruh Migran: Semoga tak Hanya Berakhir dalam Doa

Malam tadi (21/1) aku habiskan dengan nonton bareng film pendek Menya(m)bung Nasib di Negeri Orang (Sutradara: Anton Susilo). Film ini kira-kira bercerita tentang nasib seorang gadis remaja yang menjadi buruh migran dikarenakan kondisi ekonomi keluarga mereka yang tidak baik. Yang pada akhirnya justru memberikan nasib buruk pada si gadis. 

Film ini, jika boleh saya menebak, tentu berangkat dari kegelisahan sang sutradara tentang jumlah buruh migran asal NTB yang terus meningkat setiap tahunnya dan pula tingginya tingkat kasus buruh migran yang bernasib naas di negeri seberang. Kegelisahan yang tentu saja beralasan. 

Berkaca dari tahun sebelumnya,  (data tahun 2015 belum rilis- sejauh yang saya tahu) jumlah buruh migran asal NTB 2014 yakni 56.672, meningkat jauh dari yang 2013 sejumlah 45.000 (sumber: antaranews.com). Ini menunjukkan animo masyarakat yang masih tinggi meskipun ragam kasus telah menimpa saudara-saudara kita yang lebih dulu menjadi buruh migran.

Menyalahkan kondisi ekonomi yang tidak baik sebagai alasan menjadi buruh migran tentu menjadi sebuah alasan dangkal tentang kondisi sosial ini. Menjadi buruh migran adalah sebuah pilihan. Cerdas dan-atau tidak cerdas. Diantara ada dan-atau tiadanya pilihan lain. Puisi yang dipentaskan oleh kawan-kawan Sanggar Teater Samawa semalam pun sedikit banyak menyalahkan minimnya lapangan pekerjaan sebagai penyebab tingginya angka buruh migran asal NTB ini. 

Cerdas dan-atau tidak cerdas. Saya katakan demikian karena selain merasa sedih dengan banyaknya kejadian buruk yang menimpa saudara-saudara kita di luar sana, saya juga mengenal dan tahu bahwa ada banyak buruh migran indonesia yang bernasib baik (nasib?). Para buruh migran ini memilih menjadi buruh migran. Disebabkan baiknya nasib yang mereka dapatkan sebelumnya. Atau mendengar kisah-kisah baik dari para rekan mereka yang sudah berada di sana. Apakah ini cerdas? Memilih dengan melalui sebuah rangkaian pertimbangan menurut saya adalah sebuah upaya menentukan pilihan secara cerdas. 

Dan tentu tidak cerdas jika tanpa dibarengi proses demikian. Apakah ada yang seperti itu? Tentu banyak. Terlepas dari anomali-anomali semacam yang diangkat oleh Mas Anton (akrabnya), bahwa banyak yang memalsukan umur, buruh migran kita adalah orang-orang dewasa yang seringkali tidak memiliki cukup pengetahuan tentang apa yang akan dilakukan, situasi negara tujuan, atau hal-hal krusial yang mereka butuhkan. 

Ada dan-atau tiadanya pilihan lain. Bukankah sering kita mendengar bahwa Indonesia tidak menyediakan cukup lapangan perkerjaan bagi masyarakatnya. Atau bukankah sering pula kita mendengar tingginya jumlah pengangguran. Atau sekedar keluh-kesah tetangga kita tentang anak-keponakan-cucu-saudara nya yang belum juga mendapatkan pekerjaan. Menjadi buruh migran sering disandingkan dengan alasan bahwa mereka tidak memiliki pilihan lain di negeri sendiri. Ingin menjadi petani, lahan sudah habis terjual, menjadi buruh tani mungkin tak mampu mencukupi. Sedangkan pekerjaan lain tak mampu dilakoni. 

Atau apakah iya kesempatan itu tidak ada? Seringkali ketika saya bertemu pemilik sebuah usaha, mereka menceritakan betapa sulitnya mereka menemukan tenaga untuk membantu mereka. Ini tentu bukan masalah ijazah. Sebab bahkan para pemegang ijazah sekolah tinggi pun banyak yang menganggur.
***
Baik dari cerdas-tidak cerdasnya pilihan menjadi buruh migran atau ada-tiadanya pilihan lain selain itu, kedua hal ini saya rasa bermuara pada tingkat pendidikan masyarakat.  Tentang pendidikan ini tentu sudah sering kita dengar tiap kali bahasan terkait buruh migran digelar. Pemerintahan Jokowi bahkan dikatakan sangat menaruh perhatian pada nasib buruh migran Indonesia. Balai-balai latihan kerja digalakkan untuk mempersiapkan para buruh migran, dan buruh migran non-prosedural dipangkas sebisa mungkin.

Tapi menurutku, jika ingin hal baik menimpa buruh migran kita ke depannya. Bukan hanya pendidikan pra-keberangkatan saja yang perlu dilakukan. Upaya preventif yang jauh lebih kuat-lah yang dibutuhkan. Pendidikan yang jauh lebih mengakar-lah yang harus dilakukan. Yakni pendidikan sejak dini. Pendidikan yang mampu membuka pikiran anak-anak sedari dini bahwa pekerjaan (atau pun kesempatan) tak melulu harus dicari tapi terkadang perlu diciptakan. 
 
Jika negara tidak mampu hadir untuk memfasilitasi hal ini. Kacaulah negara kita. Sebab, masalah pendidikan yang saya bicarakan ini juga menjadi masalah mengapa terorisme semakin marak itu. Atau juga menjadi penyebab minimnya lapangan pekerjaan di Indonesia yang tentu mengganggu kehidupan ekonomi masyarakatnya. Atau juga ingin menyebutkan masalah paling kronis bangsa ini- karakter merasa rendah, merasa kalah, merasa miskin- yang menyebabkan banyak orang korupsi, menyebabkan banyak orang merasa inferior di hadapan asing.

Dan, tentu apalah arti segudang teori tanpa dijalani. Mengutip kata Sukarno, “Revolusi tidak datang hanya karena kita berteriak-teriak Revolusi...revolusi...revolusi sampai mati.” Marilah kita anggap kita tengah berjuang melakukan upaya revolusi (mental?). Maka jangan hanya berteriak-teriak saja. Teori-teori saja. Tapi juga butuh perbuatan. Atau tentu kita tidak mau pula tragedi-tragedi naas yang menimpa buruh-buruh migran Indonesia berakhir dalam sebuah doa, sebagaimana Sanggar Teater Samawa menutup pentas teatrikalnya semalam. 

Apapun itu, pada akhir tulisan ini, perkenankan saya atas nama pribadi mengucapkan selamat dan sukses atas pemutaran dan diskusi film Menya(m)bung Nasib di Negeri Orang semalam. Mas Anton Susilo, melalui film ini telah “berbuat”. Semoga perbuatannya mengakar, menjalar, dan tumbuh  menjadi sesuatu yang hebat. Dan tentu saja karena acara semalam juga merupakan rangkaian perayaan HUT Kabupaten Sumbawa ke-57, saya yang lahir dan besar di Sumbawa ini juga  mengucapkan Dirgahayu Kabupaten Sumbawa tercinta. Dirgahayu. Dirgahayu. Hingga nanti-nanti.